South Korea - A Family Adventure (Part-2. Jeju Island)

Penerbangan kami pukul 23.25 dengan pesawat Garuda Indonesia.  Sengaja cari flight malam supaya tiba di Seoul pagi dan bisa langsung menuju Jeju siang hari nya.

 Kami sengaja menyeragamkan tempat pssport kami, biar mudah dicari.  Kami pilih yang bisa menyelipkan boarding pass dengan baik.

Kami sengaja menyeragamkan tempat pssport kami, biar mudah dicari.  Kami pilih yang bisa menyelipkan boarding pass dengan baik.

Waktu naik ke pesawat dan take off Hugo asik bermain dengan mainannya dan setelah bisa menonton melalui layar di depan kursi, dia nonton sebentar dan akhirnya tertidur.  Selama penerbangan Hugo tidur pulas, cuma terbangun saat minta susu, lalu tidur kembali. 

 Hugo bermain-main dengan layar di pesawat, banyak film anak-anak jadinya dia betah :) 

Hugo bermain-main dengan layar di pesawat, banyak film anak-anak jadinya dia betah :) 

Sekitar pukul 5 pagi dia terbangun seperti biasanya dan tidak tidur lagi sampai dengan mendarat.  Setiap kali naik pesawat entah kenapa dia paling excited pas saat mendarat, mungkin seru kali ya dia pikir hehe.

Akhirnya tiba juga di Incheon International Airport, bandar udara terbaik no. 2 dunia, ekspektasi durasi penerbangan yang semula 7 jam entah kenapa 6.5 jam kami sudah tiba di Incheon.  Setibanya kita langsung disambut udara yang dinginnya minta ampun, dapet sinyal wi-fi langsung cek suhu, 5 derajat celcius!  Setelah masuk ke dalam gedung lagi baru merasakan hangat lagi.

 Setelah tiba langsung foto dulu :) 

Setelah tiba langsung foto dulu :) 

Setelah melewati antrian imigrasi yang cukup panjang dan ambil bagasi.  Langsung beli T-Money cards di 7-Eleven bandara dan beli banana milk yang emang udah kita incar.  Banana milk awalnya beli satu untuk coba, harga satuannya sebesar 1.300 KRW, kita coba rame-rame eh ternyata enak, langsung beli 3 lagi haha.


Transportation Cards

T-Money ini sangat berguna selama perjalanan di Korea Selatan.  Diskon sebesar 100 KRW / orang dewasa / perjalanan subway, bus, bahkan terkadang bisa digunakan untuk beberapa taxi dan convenience stores di seluruh Korea Selatan.  T-Money tidak memiliki expired date, berlaku seumur hidup dan bisa di refund pada saat tidak ingin digunakan lagi dengan potongan 500 KRW untuk service charge.  Harga T-Money kosong sebesar 2.500 KRW dan kami top-up sebesar 10.000 KRW / kartu.  

Menurut saya, T-Money ini lebih berguna bagi kami dibandingkan dengan M-Pass dan Seoul City Pass Plus.  M-Pass atau Metropolitan Pass adalah salah satu jenis kartu transportasi yang berfungsi juga sebagai T-Money dengan kelebihan bisa digunakan untuk menggunakan subway free sebanyak 20 kali / hari terkecuali kereta ekspress, Sinbundang Line, dan Bis warna merah.  M-Pass bisa dibeli untuk 1 hari, 2 hari, 3 hari, 5 hari, dan 7 hari.  M-pass dapat dibeli di Seoul Travel Information Centers di bandara Incheon.  Untuk mendapatkan M-Pass diluar dari harga per hari, harus mendeposit sebesar 4.500 KRW.  Setelah free pass selesai digunakan, fungsi T-Money tetap berjalan seperti biasanya.

Sedangkan Seoul City Pass Plus juga sebuah kartu transportasi dengan fungsi T-Money dengan keuntungan diskon 5% untuk menaiki Seoul City Tour Bus untuk berkeliling Seoul dan diskon di beberapa lokasi turis, beberapa restoran, toko optik, dan salon kecantikan.  Kartu ini dapat digunakan untuk bertransaksi di 4 Istana (Gyeongbokgung, Changdeokgung, Changgyeonggung, dan Deoksugung), Jongmyo Shrine, dan di beberapa convenience store.  

Alasan kami T-Money lebih berguna bagi kami adalah kami tidak menaiki subway sampai 20 kali / hari dan tidak lama mengunjungi beberapa istana tersebut serta tidak banyak makan di restoran-restoran.

Info lengkap mengenai kartu transportasi di Korea Selatan dapat dilihat di sini.

Setelah selesai berbelanja di 7-Eleven kami bergegas ke Exit No. 5 untuk menaiki bis No. 6003 menuju Gimpo International Airport.  Tiket per orang dewasa adalah 5.000 KRW dan anak dibawah 3 tahun free.


 Tiket airport limousine ke Gimpo International Airport

Tiket airport limousine ke Gimpo International Airport

Kami berangkat sekitar Pkl. 10.00 waktu Korea Selatan, perjalanan memakan waktu kira-kira satu jam, kami tiba di bandara Gimpo pukul 11.00.  Kami langsung check in dan memasukkan bagasi ke booth Korean Air.  Waktu boarding kami pkl. 13.10, kami masih memiliki waktu sekitar 2 jam untuk berkeliling.  Kami memutuskan untuk pergi ke Lotte Gimpo untuk mencari lokasi Tayo Kids Cafe yang memang sudah kami janjikan ke Hugo.  Berjalan kaki hanya sekitar 15 menit dari bandara Gimpo ke Lotte City Gimpo Airport melalui jalur basement.  Tidak sulit menemukan Tayo Kids Cafe, pergi ke lantai paling atas persis di depan Lotte Cinema.  Dari kejauhan Hugo sudah langsung berlari sambil teriak-teriak, “Tayo, Tayo papa, mama, Tayo Bong Bong.” hahaha Setelah lelah bermain dia kami berlikan bis Tayo yang kecil dan biskuit Tayo seharga 19.300 KRW. 


Kami pun langsung menuju bandara kembali, menunggu sebentar di ruang tunggu yang cukup ramai dikarenakan penerbangan ke Jeju ini adalah setiap 30 menit pada saat weekend.  Tidak lama kami langsung boarding pesawat Korean Air menuju Jeju Island.  Semua disini sangat ontime.  Mantep!

Selama di pesawat cuaca sangat cerah dan terlihat juga di kejauhan ada pesawat tempur yang lagi latihan terbang.  Cool.  Perjalanan memakan waktu sekitar 55 menit, no bumpy ride, dan tidak lama terlihat ujung Jeju Island dan seperti biasa Hugo excited sekali pada saat landing.  

Setelah tiba kami langsung mengambil bagasi dan mencari bis No. 600 untuk menuju Jeju World Cup Stadium di Seogwipo.  Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit, cukup lama karena Seogwipo ini kota yang terletak di paling selatan pulau jeju, sedangkan Jeju International Airport berada di paling utara.  Sama seperti di Seoul, sepertinya supir bis di seluruh Korea Selatan ini ‘pembalap’ semua, bawa bisnya super ngebut.  Kami justru merasakan bumpy ride bukan di pesawat, tapi di bis.  Hati-hati bagi yang mabuk darat.  Biaya untuk naik bis ini sebesar 5.000 KRW / orang dewasa dan anak di bawah 3 tahun free.  Bayar menggunakan T-Money, tinggal tap di mesin tap di samping supir dan langsung duduk.

Tiba di Jeju World Cup Stadium terminal dan disinilah masalah terjadi.  Catatan Itenerary saya entah kenapa kolom arah menuju Jeju Yilin Pension tempat kami menginap sangat membingungkan.  Entah apa yang saya pikirkan pada saat saya mengetik itenerary-nya.  Akhirnya kami berdebat sendiri dan tanya-tanya sekitar tidak ada yang bisa bahasa inggris.  Datanglah seorang ibu-ibu sambil menggandeng anaknya lalu bertanya, “Can I help you?”.  Dan kami bertanya kepada dia sambil menunjuk alamat yang sudah kami ketik dalam bahasa korea, “We want to go to this address.”  Dan dia pun kembali bingung tidak tahu di mana alamat itu.  Lalu dia menyuruh kami menunggu dan dia berkeliling mencari informasi dan akhirnya dia keluar dari GS-25 convenient store lalu menghampiri kami dengan tertawa dan bilang, “Go to the owner of GS-25, she knows.”  Lalu dia pergi dan kami mengucapkan terima kasih.  Baik bener, pikir kami :) Kami pun langsung menghampiri penjaga GS-25 yang sudah berganti dari anak muda (yang awalnya saya tanya tapi tidak tahu) menjadi seorang ibu-ibu tua dan dia menjelaskan arahnya sambil digambar.  Ternyata tidak jauh, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki :)  

Kami pun tiba di Jeju Yilin Pension setelah mengikuti arahan dari pemilik GS-25.  Daniel, pemilik hotel menyambut kami dan menjelaskan aturan-aturan di penginapan.  Jeju Yilin Pension ini guest house walaupun berbentuk gedung modern, jadi tata aturan di sini seperti di rumah.  Ke kamar tidak boleh mengenakan sepatu dan kaos kaki, harus di lepas di tempat melepaskan sepatu yang sudah disiapkan khusus.  Setibanya di kamar, kami langsung merebahkan diri saking lelahnya dan sedikit bongkar-bongkar untuk menyiapkan perlengkapan Hugo.  Hugo langsung meminta Tayo bus toys nya untuk dibuka.

Kamar kami sangat bagus dan cocok untuk menetap bersama keluarga.  Ada ruang tengah yang luas + dapur untuk memasak, kulkas, 2 kamar mandi, 1 kamar tidur double bed, 1 TV LED besar, dan lengkap dengan AC.  Siapa juga yang mau pake AC dinginnya udah kaya gini hahaha.

Setelah beristirahat sekitar 2 jam lalu mandi, perut pun mulai berbunyi minta di isi.  Maklum udara sangat dingin dan jadi cepat lapar :pAda satu restoran yang sudah kami masukkan di itenerary untuk kami coba, kami dapatkan restoran ini dari sebuah blog Messy Witchen, nama restorannya Tam Gung Restaurant dan hanya 15 menit berjalan kaki dari Jeju Yilin Pension.  Menurut google maps, hanya ada satu jalur menuju restoran tersebut dan jalan tersebut agak memutar, kembali ke World Cup Stadium dulu lalu menuju Tam Gung.  Cuma setelah map saya zoom saya melihat ada satu jalan yang lebih cepat tanpa harus memutar, saya bilang ke istri dan adik ipar saya, kita coba aja yuk jalannya sekalian lihat-lihat.  Awalnya istri saya takut karena sudah malam, kalau nyasar bingung mau tanya siapa, tetapi saya yakinkan dia, namanya jalan-jalan, justru nyasar yang kita cari, kalau mau pasti-pasti ikut tur aja hahaha.  Akhirnya mereka mengalah dan kami pun keluar hotel.

Malam itu udara lebih dingin dari pagi hari, sekitar 2-3 derajat celcius.  Kami lihat langit bintang banyak banget bertaburan.  Kami pun berjalan mengikuti peta.  Jalan cukup gelap, tanpa lampu jalan.  Pkl. 19.00 sudah sepi sekali di pulau Jeju.  Setelah berjalan sekitar 10 menit kami menemukan sebuah gereja dengan salib warna merah di atasnya, bagus sekali.  Cukup ramai di depannya, sepertinya baru selesai ibadah.  Saya pun menyempatkan foto gerejanya.

trazy.com

Restoran Tam Gung persis di sebelah gereja tersebut, pada saat kami tiba, restoran lagi penuh dan kami pun menunggu di luar.  Setelah disuruh masuk oleh pemiliknya kami pun ingin mengorder makanan dengan cara melihat menu.  Saya sudah tahu menunya pasti membingungkan dengan bahasa korea dan saya sudah menyimpan gambar di iPad saya makanan apa yang saya mau.  Gambar tersebut saya dapatkan dari blog Messy Witchen.  Menu utama restoran ini adalah babi panggang.  Tadinya saya pesan black pork cuma si pemilik bilang dengan bahasa inggris patah-patah yang intinya black pork sudah lewat masa nya, sekarang white pork.  Setelah saya lihat harganya sama, ya sudah lah mari kita coba.  Lalu saya pesan Cold Noodles (bibim naengmyeon).  Tentunya sebotol Soju wajib menemani di cuaca dingin seperti ini.

Setelah dicoba bibim naengmyeon tidak cocok di lidah saya, aneh saja rasanya makan mie tapi dingin,  tetapi lain halnya dengan white pork, luar biasa enaknya, wajib coba.  Semangkok Cold Noodles harganya 7.000 KRW dan seporsi white pork sekitar 15.000 KRW dan minimum pemesanan adalah 2 porsi.  Total yang kami habiskan untuk makan malam itu adalah sebesar 40.000 KRW.  Cukup mahal memang, tapi makanannya enak, recommended restoran ini.  Pemiliknya ramah sekali dan tidak masalah Hugo sedikit bikin kerusuhan disitu hehe.

Setelah kenyang, kami pun berjalan pulang dan langkah yang semakin berat (karena kenyang).  Jalur yang kami lalui bukan jalur kami datang, tetapi jalur memutar yang dari google karena sekalian ingin lihat-lihat. Dingin sekali malam itu sehingga kami berjalan lebih cepat supaya hangat dan supaya cepat tiba di hotel.

Setibanya di hotel kami pun beristirahat agar fit keesokan harinya untuk pergi ke Soesokkak Estuary.  Setelah sebatang rokok di luar hotel saya pun tidur.  O iya, sebelum merokok di Korea Selatan ada baiknya bertanya dimana boleh merokok dan dimana tidak.  Yang pasti di dalam gedung sama sekali tidak boleh merokok.  Lalu untuk buang puntung pun ada tempatnya, jangan buang sembarangan di jalan.

Hari pertama kami di Korea Selatan dan Jeju Island pun selesai, sampai bertemu di Part-3.  Soesokkak Estuary, Dongmun Market, dan Cherry Blossom Festival.  :) 

Wira Siahaan