Berburu Ombak Sawarna

Alarm ponsel saya berbunyi terus, sudah berkali-kali saya snooze dan untuk yang terakhir kali saya matikan dan memutuskan untuk bangun.  Tarik ponsel ke depan wajah untuk melihat jam, sudah pukul 03.30 pagi.  Celingak-celinguk gelap gulita, mata masih berusaha menyesuaikan.  Akhirnya sadar ini bukan kasur saya, bukan kamar saya dan saya melihat ketiga teman sekamar saya masih lelap.  Saya terbangun di penginapan Andrew Batara di Sawarna.  Perjalanan sekitar 8 jam dari daerah Pancoran, Jakarta kemarin dan jalanan yang berlika-liku naik-turun membuat saya agak hang.  Saya pun segera keluar untuk membangunkan teman-teman yang lain, saatnya berburu matahari terbit!

Para ojek Sawarna pun sudah siap menunggu di halaman tengah penginapan ini, siap mengantarkan kami menuju Legon Pari.  Sekitar 2 tahun yang lalu saya sudah pernah ke tempat ini dan seingat saya jalan menuju sana rusak parah, batu-batu besar dan tanah.  Entah sekarang sudah seperti apa.  Setelah pengarahan singkat dari pemimpin tur, yaitu Ari Amphibia, tepat pukul 04.00 kami pun berangkat serentak.  "Kang Iki, Kang Iki dimana ya?", panggil saya kepada ojek yang akan menemani saya selama 3 hari di Sawarna ini.


Penderitaan 10 Menit

Perjalanan menuju Legon Pari hanya 10 menit dari penginapan.  10 menit yang cukup menderita karena tas punggung penuh perlengkapan foto sambil menggotong tas tripod sambil berpengangan ke bagian belakang motor untuk menjaga keseimbangan.  Jalanan sudah jauh lebih baik dibanding dulu, semua sudah di semen, hanya saja naik-turun dan kelok-keloknya tetap membuat penderitaan.  Kondisi jalanan gelap gulita, hanya bermodalkan lampu motor untuk melihat jalan.  Kalau bukan karena keahlian Kang Iki membawa motor, mungkin sudah nyusruk entah kemana.  Mendekati lokasi, suara gemuruh ombak pun mulai terdengar, jantung saya pun mulai berdebar makin kencang karena semakin tidak sabar untuk segera berburu foto.  Kami pun tiba di lokasi.  Langsung meregangkan otot-otot dulu sebelum mulai menyambut matahari terbit. 


Legon Pari


Legon Pari ini menjadi salah satu tempat favorit untuk berburu matahari terbit di Sawarna.  Ombak Samudra Hindia yang besar dan menghantam karang adalah salah satu saat favorit pengunjung untuk diabadikan dengan foto.  Setelah berdoa bersama, kami pun turun ke bawah bersama-sama, masing-masing dari kami didampingi oleh ojek masing-masing yang membantu membawakan tas dan juga mengawasi kita.  Fotografer sering sekali lupa situasi saat sedang serius foto.  Kang Iki, sebagai ojek yang menemani saya pun selalu mengingatkan apabila ombak besar akan datang dan selalu berjalan di depan untuk mencari jalan yang lebih mudah untuk saya lewati.  Terutama yang harus diwaspadai adalah tempat yang dalam, karang tajam, dan bulu babi.

Berbeda dengan perjalanan saya ke Sawarna 2 tahun yang lalu, kali ini saya mengikuti sebuah trip yang diadakan oleh Fujifilm Indonesia, disponsori oleh Fujishop dan diorganisir oleh Fuji Guys Indonesia (Website | Instagram).  Pemimpin trip ini adalah Ari Amphibia, seorang fotografer lansekap yang sangat berpengalaman dan juga seorang Fujifilm X-Influencer.  Pada saat perjalanan ini diumumkan, tanpa pikir panjang saya pun mendaftar. 

Berikut adalah perlengkapan foto yang saya bawa untuk trip foto kali ini:

  1. Fujifilm X-T2
  2. Lensa Fujinon XF 55-200
  3. Lensa Fujinon XF 23/1.4
  4. Tripod Sirui T-1204XL + ball head E-10
  5. 4 buah SD Card Sandisk 32 GB 95 mbps
  6. Harddisk WD My Passport Wireless 2 TB
  7. Shutter Realese Cable
  8. Beberapa Lee Filters tipe Seven5

Kenapa saya bawa lensa zoom medium-tele? karena sejak dari Sawarna terakhir kali saya berangan-angan ingin foto ombak secara dekat.

Tempat ini tempat terbaik untuk melihat matahari terbit dan apabila anda penggiat fotografi, tempat ini tempat terbaik untuk belajar foto lansekap.  10 menit penderitaan di perjalanan menuju tempat ini terbayar sudah apabila melihat keindahan tempat ini.

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @115, f/5, 0.5 sec, ISO 200

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @100, f/14, 0.8 sec, ISO 200.  Lee Seven5 Little Stopper.

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @55, f/22, 0.6 sec, ISO 200.  Lee Seven5 Little Stopper.

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @90, f/20, ISO 200.  Lee Seven5 Little Stopper.

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @200, f/20, 1/13, ISO 200.  Lee Seven5 Little Stopper.

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @160, f/4.6, 1/160, ISO 200.  Two photos combine.


Foto-foto Behind the Scene peserta berburu:


Pertama kali menggunakan lensa 55-200 ini membuat saya sangat bersemangat sepanjang hunting.  Tripod Sirui yang baru saya beli yaitu tipe T-1204XL dengan ball head E-10 pun cukup bagus dan kokoh.  Sayangnya ball head E-10 ini tidak cukup kuat menopang apabila lensa 55-200 dalam kondisi full zoom di 200mm.  Dengan posisi horisontal akan turun perlahan-lahan, dalam kondisi potret akan langsung turun secara cepat.  Sepertinya untuk ball head saya harus segera upgrade ke yang lebih kuat. 

Setelah puas berburu, tak terasa perut pun sudah minta diisi.  Kami pun menuju ke pondokan-pondokan di sekitar pantai Legon Pari untuk bersantai, tidur-tiduran di pondokan sambil menunggu nasi kotak untuk makan siang.  Suara debur ombak ditambah angin pantai tidak pernah gagal membuat ngantuk.

Setelah makan siang, kami pun kembali ke penginapan untuk beristirahat karena sore sekitar pukul 15.00 akan kembali bersiap-siap untuk berburu matahari terbenam di Tanjung Layar.


Tanjung Layar


Pukul 15.00 ojek sudah menunggu untuk membawa kami ke Tanjung Layar.  Menuju Tanjung Layar hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit menggunakan motor.  Tanjung Layar ini sangat unik karena dua buah karang besar berbentuk layar kapal.  Dua buah karang ini sangat identik dengan Sawarna.  Masing-masing karang menghadap ke Selatan dan Barat.  Laut dan matahari terbenam.  Dua buah karang besar ini dikelilingi oleh karang yang membentang dari Timur ke Barat, seolah-olah menghadang dan melindungi Tanjung Layar dari ombak Samudra Hindia yang besar.  Jajaran karang ini disebut Karang Genteng, sebelum memasuki area sudah ada papan peringatan bahwa dilarang menaiki karang ini karena sangat berbahaya.  Bisa terhajar ombak dan jatuh ke karang di bawah atau bisa juga terseret ombak dan hilang di samudra.

Mengikuti arahan dari Ari Amphibia, kami pun langsung mengambil tempat masing-masing.  Sama seperti di Legon Pari, di Tanjung Layar ini pun saya tetap mengincar ombak yang menghantam melalui karang-karang.

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @200, 1/200 f/9, ISO 200

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @55, f/18, 1/13, ISO 200.  Lee Seven5 Little Stopper.


Foto-foto behind the scene peserta berburu:


Selesai mengabadikan matahari terbenam, kami pun berkumpul di pinggir pantai untuk acara lanjutan yaitu foto atraksi steel wool dan kembang api.  Menurut Ari Amphibia, foto kembang api di Tanjung Layar ini adalah yang pertama kalinya lho.  Seru sekali.

Fujifilm X-T2 | XF 23, f/9, 27 sec, ISO 200

Fujifilm X-T2 | XF 23, f/5.6, 41 sec, ISO 200


Setelah puas foto dari matahari terbenam hingga malam, perut pun mulai keroncongan.  Kami segera kembali ke penginapan untuk makan malam.  Malam ini menu sangat spesial, ikan bakar dan lobster!  Kolesterol? Apa itu? Hehe


Badan cukup lelah dan perut kenyang, apalagi yang menunggu berikutnya kalau tidak sesi mengobrol sambil mengenal peserta yang lain.  Ada juga sesi edit foto yang dipandu oleh Ari Amphibia.  Ada juga yang langsung tidur.  Satu per satu dari kami meninggalkan area tengah untuk masuk kamar, termasuk saya.  Kami harus beristirahat karena masih harus bangun pagi untuk foto matahari terbit di Tanjung Layar.

Keesokan harinya

Bunyi jendela di gedor pun membangunkan kami.  Lihat ponsel ternyata sudah pukul 04.00.  Lho saya tidak mendengar alarm yang ternyata sudah berbunyi berkali-kali.  Rasanya baru saja menaruh kepala di bantal.  Saya segera ke kamar mandi untuk cuci muka dan segera mengangkut tas untuk keluar kamar.  Para ojek pun sudah menunggu untuk mengantarkan kami ke Tanjung Layar.  Hampir semua dari kami terlambat bangun, mungkin terlalu lelah.   Bahkan ada beberapa orang yang sudah tidak kuat dan lebih memilih untuk melanjutkan beristirahat.

Setelah tiba di Tanjung Layar, kami pun mengambil posisi yang menghadap ke Timur.  Matahari muncul tepat dari balik karang.  Tidak bisa berlama-lama untuk mengambil saat matahari terbit karena matahari cepat sekali naik dan juga air kembali pasang.  Sebelum pasang sepenuhnya saya pun sudah naik ke atas.

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @60, f/7.1, 1/40 sec, ISO 200

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @200, f/22, 1/4 sec, ISO 200

Fujifilm X-T2 | XF 55-200 @80, f/18, 1/30 sec, ISO 200


Pantai Pasir Putih


Biasanya kami dari penginapan ke Tanjung Layar dan kembali lagi ke penginapan menggunakan ojek.  Tapi karena ini hari terakhir, beberapa dari kami memilih untuk berjalan kaki kembali ke penginapan sekalian melihat-lihat selama perjalanan kembali.  Kami berjalan sambil melewati Pantai Pasir Putih melihat ada beberapa turis asing yang sedang berselancar, lalu semakin mendekati area penginapan banyak sekali pondokan-pondokan, lokasi yang bagus untuk mencari saat yang menarik kegiatan para pelancong yang mengunjungi Sawarna.

Terima kasih Ajun untuk pinjaman lensa Fujinon XF 35/1.4 yang saya gunakan untuk foto-foto dibawah ini:

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/8, 1/640, ISO 400

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/4, 1/1900, ISO 400

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/8, 1/180, ISO 400

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/5.6, 1/350, ISO 400

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/5.6, 1/2700,  ISO 200

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/8, 1/1700, ISO 400

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/8, 1/750, ISO 400

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/8, 1/1400, ISO 400

Fujifilm X-T2 | XF 35/1.4, f/8, 1/1250, ISO 200


Kembali Ke Jakarta


Tiba di penginapan, saya pun langsung packing karena pukul 13.00 kami sudah harus meninggalkan tempat ini dan kembali ke Jakarta.

Senang sekali rasanya bisa mengunjungi Sawarna.  Keramaian tempat ini berbeda sekali dengan terakhir kali saya kesini, dimana waktu itu masih sepi sekali, sekarang ramainya bukan main.  Masih menjadi tempat yang sangat menarik, selain bisa berburu foto lansekap, juga bisa menjadi tempat berburu foto dokumentasi kegiatan para pelancong, atau sekadar datang untuk bersantai.  Semakin seru karena mengunjungi Sawarna bersama grup Fuji Guys Indonesia yang super heboh, benar-benar menyegarkan.  Semoga komunitas Fuji Guys Indonesia semakin solid dan erat kekeluargaannya.  Sawarna, semoga tetap dijaga bersih oleh para pelancong agar ke depannya semua orang tetap bisa menikmati keindahan pantai ini.

Terima kasih Fujifilm Indonesia, Fujishop, Fuji Guys Indonesia, dan Ari Amphibia yang sudah mengadakan perjalanan ini, semoga ke depannya semakin sering mengadakan acara seperti ini.  Dan seperti biasa setiap tur ditutup dengan foto-foto keluarga :) 

Terima kasih kepada Pak Yoga yang sudah mengijinkan foto-foto keluarga dibawah ini digunakan untuk blog saya.

Terima kasih sudah membaca.  Jangan lupa subscribe agar terus update artikel-artikel terbaru dari Cerita Wira.

Salam,
Jakarta, Oktober 2017

 

Wira Siahaan