Japan - A Family Adventure (Persiapan)

By failing to prepare, you are preparing to fail.
— Benjamin Franklin

Teringat tahun 2015 yang lalu pada saat mengunjungi Garuda Travel Fair saya kalah suara dengan istri dan adik ipar saya sehingga tujuan liburan kami berganti ke Korea Selatan. (Perjalanan kami ke Korea Selatan bisa dibaca mulai dari sini)  Bukannya saya tidak suka dengan Korea Selatan, saya suka kok, terutama pulau Jeju itu salah satu tempat yang saya pasti akan kembali lagi suatu saat nanti.  Namanya udah kepingin tiba-tiba tidak jadi ya sempat gondok juga hehe.  Tapi tidak masalah pikir saya, masih ada tahun depan.  Tapi apa daya, tahun 2016 kemarin ada liburan yang tidak bisa ditolak yaitu kumpul keluarga besar ke Bali untuk merayakan Natal sekaligus buka Tahun 2017.  Lalu masih di tengah tahun 2016 pun kami sekeluarga berlibur ke Pontianak dan Singkawang.  Akhirnya pupus lagi harapan untuk pergi ke Jepang tahun 2016 yang lalu.  

Tahun 2017 ini kami merencanakan untuk berlibur ke Jepang pada saat musim gugur tapi karena pada saat kami lagi seru diskusi perencanaan, ibu saya mengetahui bahwa kami ingin pergi berlibur dan meminta ikut tapi tidak mau di Autumn, maunya di Spring saja dan sekaligus ajak adik-adik saya.  Lalu istri saya juga bilang bahwa teman kami Kristin juga ingin ikut.  Wow, rame juga.  Pikir saya, "Okay, the more the merrier." :) Yang tadinya niat pergi cuma 4 orang termasuk anak saya, sekarang peserta bengkak menjadi 8 orang.

1.  Tiket Pesawat

Yang paling pertama harus dicari adalah tiket pesawat.  Karena saya kurang sabar dalam urusan mencari tiket maka saya mempercayakan kepada istri saya untuk memantau harga.  Akhirnya Ia menemukan tiket JAL dengan harga promo dengan tanggal yang sesuai kami mau.

2.  Itinerary

Setelah tiket pesawat didapatkan, saatnya membuat itinerary.  Nah yang ini kerjaan saya.  Sebelum pembuatan itinerary dimulai saya sudah menerima masukan-masukan tempat wisata yang ingin dikunjungi dari grup perjalanan.  Setelah semua fix diterima barulah pembuatan itinerary dimulai.  Saya sendiri memiliki 2 tahap dalam membuat itinerary, yang pertama yaitu menentukan rute kota-kota mana saja yang harus dikunjungi.  Sebagai contoh pada saat kami ke Jepang saya menentukan kota pertama setelah mendarat adalah Nagoya (2 malam), lalu ke Kyoto (3 malam), setelah itu baru ke Tokyo (6 malam).  Setelah saya mendapatkan kota-kotanya barulah saya infokan ke istri agar dicarikan akomodasi.  Setelah itu barulah saya mulai membuat itinerary lebih detail hingga ke transportasi yang digunakan beserta kegiatan detill per hari.

Untuk mencari transportasi beserta jadwalnya saya menggunakan bantuan website hyperdia.com. Dan apabila masih kurang jelas, anda bisa menanyakan apa saja kepada Takeshi di website JPRail.com, tetapi jangan melalui email, tanyalah melalui kolom comment, karena Takeshi sudah mengingatkan semuanya yang terdapat di websitenya adalah open information, pertanyaan melalui email tidak akan dijawab.  

Masih banyak website-website yang saya baca sebagai referensi, tetapi sejauh ini dua website itu yang paling handal untuk membuat itinerary.

Setelah itinerary selesai di orat-oret saya pindahkan ke aplikasi TripIt yang langsung ter-sync ke semua gadget anggota travel.

3.  Akomodasi

Membawa balita dan orang tua menjadi tantangan tersendiri karena segala sesuatu harus benar-benar aman dan nyaman.  Untuk urusan akomodasi saya mempercayakan kepada istri saya.  Ia cukup rajin memantau Airbnb.com, Booking.com, dan Agoda.com untuk mencari lokasi yang strategis dan cukup untuk 8 orang.

4. Visa

Untuk visa bisa dilakukan paralel dengan kegiatan lain, tetapi lebih baik apabila tiket pesawat dan akomodasi sudah pasti didapatkan.  Dan yang pasti jangan ada satupun dokumen yang terlewat sesuai syarat dari Kedutaan Jepang.

5. Komunikasi

Untuk komunikasi kami menggunakan pocket Wi-Fi yang kami sewa dari HIS Japan.  Banyak jasa penyewaan pocket Wi-Fi di Jakarta,  cuma harus cepat-cepat terutama musim libur cepat sekali full booked. Ada alternatif lain yaitu membeli prepaid sim card di Jepang.  Enaknya menggunakan prepaid sim card adalah anda tidak perlu membawa gadget ekstra di dalam tas anda.  Apabila saya berjalan sendirian mungkin saya lebih memilih prepaid sim card.  Karena saya bepergian dengan grup pilihannya jatuh ke pocket Wi-Fi.

6. Tiket Transportasi

"JR Pass" pasti sering anda dengar dari teman-teman atau saudara anda yang pernah travel ke Jepang.  Sebenarnya apa itu JR Pass?  JR Pass adalah sebuah semacam 'tiket terusan' yang dikeluarkan oleh Japan Railway (JR) untuk penggunaan kereta, bis, dan ferry milik JR dalam jangka panjang (7 - 14 hari) khusus bagi pemegang visa turis di Jepang.  Bagi yang memiliki itinerary pindah-pindah kota menggunakan Shinkansen selama di Jepang, penggunaan JR Pass ini sangat cost effective.  Untuk lengkapnya bisa dibaca disini.

JR Pass bisa dibeli pada perusahaan tour & travel di Indonesia dengan harga yang bersaing.  Kami sendiri membelinya dari Panen Tour pada saat pameran di Kota Kasablanka.  

7. Tiket Theme Park

Tiket Disneyland sudah kami beli dari Jakarta.  Kebetulan kami mendapatkan harga discount karena kami menyewa mobile wifi di HIS Japan dan mendapatkan diskon untuk Disneyland open-date ticket.  Open-date ticket lebih mahal sedikit dibandingkan tiket biasa karena tidak terikat di tanggal tertentu, jadi kami bisa memantau cuaca, apabila hujan kami tinggal alihkan ke hari lain.

Untuk Legoland Nagoya juga sebenarnya bisa dibeli secara online tetapi karena tidak ada tiket open-date, lebih baik beli disana saja.

8. Koper, Pakaian, dan Obat-obatan

Jangan takut untuk membawa koper besar di Jepang, walaupun tidak semua kereta memiliki tempat untuk menaruh koper tetapi masih bisa ditempatkan di depan anda selama duduk.  Kecuali untuk kereta-kereta dalam kota seperti Metro Line yang memang cukup merepotkan karena apabila anda tidak mendapatkan tempat duduk, anda harus berdiri sambil memegang koper.

 
 

Untuk jaket dan perlengkapan musim semi kami membeli di TwigHouse.  Jangan berlebihan dalam membeli perlengkapan, terutama untuk musim semi.  Yang paling krusial adalah jaket wind-breaker untuk menahan angin yang cukup kencang di Jepang.

Jangan lupa juga pemanas untuk orang tua dan anak-anak.  Pemanas ini kami beli di TwigHouse juga, ada beberapa macam ukuran, yang ukuran kecil bisa dimasukkan ke dalam sepatu anak kami pada waktu cuaca tiba-tiba dingin dan ibu saya memasukkan ke dalam sarung tangan.  Untuk perlengkapan dan persiapan membawa anak-anak bisa dibaca disini.

 
 

Tergantung preferensi setiap orang, ada yang suka menggunakan dompet kalung untuk menyimpan passport dan uang, ada yang suka menggunakan tas pinggang, dan ada juga yang tetap menyimpan di tas.  Saya sendiri suka menggunakan tas pinggang untuk menyimpan uang dan passport.  Bawalah passport kemanapun anda pergi selama di Jepang, karena sebagai turis, passport adalah ID anda selama di Jepang.  Plus, passport anda dibutuhkan apabila berbelanja di tempat-tempat yang berlogo tax refund.  Lumayan kan? 😃 Jadi bawalah passport asli kemanapun anda pergi dan tinggalkan copy-nya di penginapan.

Untuk obat-obatan, bawalah sesuai keperluan pribadi.  Banyak drug store di Jepang tetapi jika anda tidak bisa berbahasa Jepang akan cukup merepotkan berkomunikasi dengan apotekernya, syukur-syukur bisa bahasa Inggris.

9.  Fotografi

Nah yang ini khusus saya 😃  Sudah beberapa kali  travel bersama keluarga saya benar-benar menyederhanakan perlengkapan foto saya.  Kenapa? Karena fokus saya adalah menghabiskan waktu bersama keluarga, bukan fotografi.  Satu kamera Fujifilm X-T2 dan lensa XF 23 sudah cukup bagi saya.

Untuk solusi backup foto selama perjalanan, tadinya saya membawa laptop dan sebuah harddisk eksternal pada saat travel, tetapi saya merasa berat dan merepotkan sekali membawa semuanya.  Akhirnya saya beralih ke Wi-Fi External Harddrive saja tanpa membawa laptop.  Untuk lengkapnya bisa dibaca disini.

10.  Aplikasi-aplikasi Bantuan

Saya pribadi lebih suka menggunakan buku-buku travel sebagai bantuan perjalanan.  Alasannya sangat personal, saya suka buku. 😃 Tetapi membawa buku itu menambah beban selama perjalanan.  Lalu buku itu time consuming, mencari sesuatu membutuhkan waktu.  Sekarang ini semua bisa digantikan dengan satu buah gadget, dalam hal ini satu buah iPhone 5S saya.  Untuk Travel, semua aplikasi yang tidak diperlukan saya uninstall dan aplikasi-aplikasi yang membantu selama perjalanan saya install.  Untuk aplikasi yang saya gunakan setiap kali travel bisa dibaca disini dan khusus untuk ke Jepang bisa dibaca disini.

Karena travel mengandalkan gadget dan aplikasi, jangan lupa bawa power bank, selain berguna untuk recharge gadget, berguna untuk untuk recharge pocket Wi-Fi.

11.  Uang Yen

Penukaran uang bisa juga sambil berjalan karena sambil mengamati nilai tukar.  Biasanya yang anda dapatkan adalah pecahan 10.000 Yen.  Tidak usah takut karena mudah sekali memecahkan 10.000 Yen di Jepang.

Demikianlah persiapan saya untuk musim semi ke Jepang.  Selamat berlibur ke Jepang.

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa subscribe ya untuk menerima update blog dan tips-tips travel dan photography dari saya setiap minggunya. 

Untuk langsung membaca perjalanan kami ke Jepang mulai dari hari-1 bisa klik button dibawah ini.  

Wira Siahaan