Japan - A Family Adventure (Day 1 - Ohisashiburi Japan!)

Tiba pagi sekali di bandara Soekarno-Hatta, ngantuk. Tidak bisa tidur semalaman karena terlalu excited.  Kami tiba di Bandar Soekarno-Hatta cukup awal biar santai.  Boarding dan take off tepat waktu.  Thank you Japan Airlines.  Perjalanan ditempuh dengan waktu kurang lebih 8 jam. Kembung bir Asahi dan red wine.

Hugo benar-benar tidak sabar menunggu take off tapi sayangnya karena terlalu mengantuk akhirnya tertidur sebelum take off.

Selama di pesawat saya tidak bisa tidur nyenyak, terbangun terus. Beberapa bari belakangan memang saya cukup lelah, menyelesaikan semua pekerjaan agar bisa liburan dengan tenang.  Alhasil badan pegal-pegal dan kepala agak pusing sehingga tidur pun kurang nyenyak.  Untunglah ada handphone & keyboard bluetooth, paling tidak saya bisa cicil tulisan untuk blog sambil menunggu landing.  Sambil mengetik sambil latihan listening bahasa Jepang dengan mendengar berita NHK pada TV pesawat, walaupun isi beritanya cukup menyebalkan, berita Amerika ngebom Afghanistan. 

Singkat cerita akhirnya saya tertidur dan terbangun kira-kira 3 jam sebelum landing.  Lumayan, 3 jam terakhir selesai menonton hampir 2 film.

Beberapa waktu sebelum mendarat saya terkenang akan liburan lengkap kami sekeluarga bersama ayah kami pada tahun 1995, sudah cukup lama.  Sekarang kami bersaudara lengkap dengan ibu kami kembali mengunjungi Jepang, kali ini bertambah anggota keluarga yaitu istri dan anak saya, adik ipar, dan sahabat keluarga kami.  Saya sangat bersemangat :)

Pkl. 16.25 akhirnya landing!  Landing yang cukup rough, mungkin karena angin yang cukup kencang!

Tiba di Narita International Airport Terminal 2.  Sebelum mengantri di imigrasi, kami mengaktifkan mobile WiFi yang kami sewa di HIS Japan.  Kebetulan HIS Japan mempunyai promo apabila membeli salah 1 paket tour mereka akan mendapatkan diskon menyewa mobile WiFi.  Kami pun memutuskan untuk membeli tiket Open Date Disneyland di HIS Japan dan mendapatkan harga diskon untuk mobile WiFi unlimited.  Tiket open date lebih mahal dibanding beli tiket biasa karena tiket ini bisa digunakan untuk hari apa saja, berjaga-jaga apabila tiba-tiba hujan kami bisa mengalihkan ke hari lain.

O iya, karena grup yang berjumlah 8 orang ini berisikan 1 orang tua dan 1 balita, jadi segala sesuatu harus dipersiapkan secara matang, mulai dari obat-obatan, baju, aplikasi handphone, itinerary lengkap dengan nomer, jalur, stasiun, jadwal, dan jenis kereta, dan semua tiket-tiket wahana yang bisa dibeli online atau dibeli dari kantor perwakilannya di Indonesia sudah kami beli terlebih dahulu biar tidak menambah beban pikiran selama perjalanan.  Terutama membawa balita yang susah-susah gampang, bawaan kita menjadi agak berat karena perlengkapannya tidak boleh ada yang kurang. Untuk tips-tips membawa anak kecil bisa dibaca disini.

45 menit kemudian kami akhirnya melewati imigrasi.  Cukup lama karena sedang musim sakura, jadi banyak sekali turis yang mengunjungi Jepang. Jadi ada baiknya apabila berlibur ke Jepang, masukkan waktu 30-45 menit dalam itinerary anda agar tidak terburu-buru dalam mengejar kereta atau bahkan tertinggal kereta.  Setelah melewati imigrasi, turun 1 lantai langsung ambil bagasi dan keluar ke area penjemputan.  O iya, selama di imigrasi jangan coba-coba mengambil foto menggunakan handphone apalagi kamera ya, langsung diteriakin sama petugas yang berjaga disekitar situ.  Bahkan ada peringatan jangan menggunakan handphone kecuali untuk mencari alamat penginapan.  Pada saat kami mengantri ada turis yang diteriakin dan disamperin lalu disuruh buka handphone-nya untuk melihat dia foto apa dan langsung disuruh hapus.  Daripada malu mending tidak usah coba-coba ya hehe.

Disini saya baru merasa, bandara ini chaos sekali.  Area kedatangan sepertinya tidak cukup menampung semua orang yang berjubel di area ini karena banyak sekali counter-counter penyewaan WiFi, SIM Card, penyewaan mobil, hotel, dll. Semua turis mengantri dan mengakibatkan trolley koper susah sekali lewat.  Beda sekali dengan pengalaman kami di Bandara Incheon yang sangat besar dan teratur.

Bagi yang membeli JR Pass dari Indonesia, sekarang saatnya menukar JR Pass Exchange Order anda ke bentuk Pass.  Setelah keluar dari pintu pengambilan bagasi, langsung belok kanan untuk turun menggunakan ekskalator atau bisa juga menggunakan lift yang ada di pintu keluar sebelah kiri (melewati ekskalator, belok kiri).  Turun ke lantai B1, belok kiri, JR Pass Office ada di sebelah kiri.  Usahakan secepat mungkin mengurus JR Pass karena antrian cukup panjang apabila sedang musim libur.  Area JR Office dan Narita Express Entrance ini lebih chaos lagi dibanding area penjemputan.  Kami menghabiskan waktu 1 jam disini karena menunggu antrian JR Pass.

Bagi yang menggunakan Narita Express dan Shinkansen, pastikan reserved seat pada saat mengurus JR Pass.  Terutama untuk Narita Express yang all-reserved seat.  Karena banyak sekali teman-teman dan saudara-saudara saya yang menanyakan mengenai JR Pass, untuk lebih jelas mengenai JR Pass akan saya tulis di artikel yang berbeda.

Setelah mendapatkan JR Pass, anda sudah bisa bernafas lega karena sisanya tinggal keberangkatan.  Walaupun tetap harus waspada karena kereta di Jepang ini sangat tepat waktu.  Bagi yang menggunakan Narita Express, jalurnya ada di seberang JR Pass Office.  Anda tinggal menunjukkan JR Pass anda / tiket reserved anda ke penjaga pintu masuk dan langsung menuju jalur dan antrilah di tempat sesuai nomer gerbong anda.  Untuk nomer gerbong bisa dilihat di tiket reserved anda.  Untuk tempat mengantri bisa dilihat di lantai atau di atas area menunggu kereta.

Kereta Narita Express memiliki tempat khusus untuk menaruh koper berukuran besar dan berukuran sedang di setiap ujung gerbong, namun sangat terbatas.  Apabila tidak kebagian, ditempatkan di depan kaki anda pun masih muat, hanya kenyamanan anda berkurang selama perjalanan.  Untuk koper berukuran kecil bisa ditempatkan ditempat di atas kepala anda. 

Seperti yang saya bahas sebelumnya, semua jadwal kereta di Jepang sangat 'ontime', tetapi yang namanya sial ya tetap sial, pada saat kami menaiki Narita Express menuju Shinagawa, terlihat pengumuman di layar bahwa kereta akan melambat karena terjadi musibah.  Musibahnya adalah satu penumpang entah di kereta yang mana mengalami cedera/sakit/luka.  "Wah gawat nih, bisa ketinggalan shinkansen kita", ujar saya ke istri saya.  Dan benar saja, kami tiba terlambat 1 menit dan shinkansen yang harus kami naiki menuju Nagoya sudah berangkat.  Alhasil kami harus naik Shinkansen berikutnya dan menginfokan rumah tempat kami menginap bahwa kami late check-in.

Karena hari pertama tiba dan kondisi cukup lelah, kami tidak mau mengambil risiko menaiki Shinkansen dengan non-reserved seat.  Kami pun reserved seat ulang ke JR Pass Office di Stasiun Shinagawa.  Sambil menunggu Shinkansen kami isi perut dulu.  Dibanding emosi!

Shinkansen tiba.  Kami menaiki gerbong untuk reserved seat.  Bagi anda yang membawa koper bisa ditempatkan dibagian paling belakang (tepat dibelakang seat terbelakang), tapi coba ijin dahulu kepada penumpang yang duduk disitu, takutnya mereka ingin menunrunkan sandaran kursi untuk tidur jadi terhalang.  Apabila tidak memungkinkan, sama seperti Narita Express, koper bisa ditempatkan didepan kaki anda.


Tips menaiki kereta di Jepang

Kereta akan berhenti di tiap stasiun, kecuali kereta-kereta tertentu seperti Shinkansen, Limited Express, dan Narita Express yang hanya berhenti di stasiun-stasiun tertentu.  Setelah berhenti di satu stasiun, menaiki penumpang, dan berjalan lagi, biasanya akan ada pengumuman yang berbunyi seperti ini:

"Tsugi wa Shinjuku Eki." atau dalam bahasa Inggris "The next stop is Shinjuku Station."

Itu berarti kereta sedang menuju Shinjuku Station.  

Apabila sudah medekat stasiun tertentu akan ada pengumuman yang berbunyi seperti ini:

"Mamonaku! Shinjuku Eki." atau dalam bahasa Inggris "Soon! Shinjuku Station."

Nah pada saat anda mendengar kata "Mamonaku..." ada baiknya ada segera bersiap-siap dan standby di dekat pintu.  Kenapa? Karena kereta-kereta di Jepang tidak berhenti lama-lama.  Orang yang keluar di dahulukan dan orang yang ingin masuk sudah mengantri di luar.  Everything is exact here in Japan.  Tenang, 1-2 hari juga terbiasa. 😃


Kami pun tiba di Nagoya Station.  Untuk keluar dari area JR, tinggal tunjukkan pass JR Pass kepada petugas stasiun di pintu keluar JR dan kami pun tiba di luar stasiun.  Kami langsung menuju Coin Locker di stasiun untuk menitipkan 2 malam koper-koper kami yang besar agar tidak perlu dibawa ke penginapan di Nagoya yang cukup jauh dari stasiun.  Harga per locker untuk locker besar adalah 600 Yen / 24 jam.  Harus cepat-cepat dan agak untung-untungan karena locker berukuran besar sangat terbatas.  


Tips Selama Berada di Stasiun Kereta Jepang

1.  Untuk stasiun-stasiun besar dan sibuk seperti Nagoya Station, Shinjuku Station, Ikebukuro Station, dan Shibuya Station, pelajari dulu map nya sebelum tiba, karena kemungkinannya sangat tinggi untuk nyasar.  Untuk map stasiun-stasiun major di Jepang bisa di download disini.

2. Apabila sedang bingung dan ingin berhenti untuk melihat map atau bertanya, segeralah menuju pinggir, jangan berhenti ditengah-tengah.  Jika berhenti di tengah-tengah akan menghalangi orang-orang yang berjalan atau bahkan berlari karena mengejar kereta.  Saya melihat sendiri ada yang marah karena terhalang jalannya.  Jika ingin bertanya, jangan bertanya kepada orang-orang selain petugas bandara, karena kecil kemungkinannya mereka meladeni anda karena mengejar waktu.


Dan lagi-lagi mengalami kesialan, karena seharusnya kami menaiki kereta lokal menuju Arako Station tapi jadinya tertinggal karena kereta terakhir baru saja berangkat.  Beda 1 menit!!!  Benar-benar mau marah.  Akhirnya terpaksa naik taksi menuju penginapan.  Biaya dari stasiun menuju penginapan 2.560 Yen, untung patungan dan kebetulan memang sudah dimasukkan budget untuk berjaga-jaga hal seperti ini terjadi.  Tapi karena saya ingin menenangkan pikiran, saya memilih jalan kaki dari Nagoya Station menuju ke penginapan.

Tiba di penginapan 45 menit kemudian.  Langsung mandi dan tidur karena besok pagi langsung ke Legoland dan Nabano No Sato.  Hooray!

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa subscribe ya untuk menerima update blog dan tips-tips travel dan photography dari saya setiap minggunya. 

Sampai jumpa di Day 2 - Legoland Nagoya & Nabana No Sato.

 

Wira Siahaan