Japan - A Family Adventure (Day 3 - Kyoto)

 Pagi ini Hugo susah sekali disuruh mandi, padahal kami harus agak cepat tiba di Nagoya Station.  Mungkin karena udara yang dingin dia jadi malas sekali mandi, harus susah payah dibujuk baru akhirnya mau.  Sebelum kami meninggalkan guest house, kami mengisi buku kesan-pesan yang ditinggalkan oleh pemilik, Tsutomu-san.  Kami bereskan semua kembali seperti semula sebelum meninggalkan tempat ini.  Kami memutuskan langsung ke Kyoto, tidak ke Nagoya Science Museum karena mayoritas ingin segera melihat Kyoto.  

Karena pada saat kami tiba di Nagoya kami menitipkan koper besar kami ke coin locker yang terdapat di Nagoya Station, pagi ini kami harus pergi lebih awal agar sempat untuk mengambil koper besar kami sebelum naik Shinkansen ke Kyoto.  Locker besar terdapat di samping kantor polisi di area central Nagoya Station.  Untuk locker besar biayanya sebesar 600 Yen / 24 jam.  Apabila anda tidak memiliki uang koin anda bisa menukarkan koin pada mesin penukaran koin yang terdapat di pojok ruangan locker.  Ada 3 ukuran locker, yaitu kecil, sedang, dan besar. 

Shinkansen Hikari yang kami naiki sudah kami reserved sehari sebelumnya, jadi kami tinggal mengantri saja.  Seperti biasa, antrilah jangan terlalu mepet waktunya karena Shinkansen tiba tepat waktu, kalaupun terkena delay paling hanya selama 18 detik.  Dan apabila anda tertinggal kereta Shinkansen, jangan panik apalagi melampiaskan emosi ke grup hehe, anda tinggal menunggu kereta berikutnya, naiki salah 1 gerbong non-reserved, biasanya gerbong nomor 1 s/d 5.  Malah biasanya lebih lowong yang non-reserved dibanding reserved karena rata-rata pengguna akan reserved kursi yang dekat jendela dan kursi di sebelahnya tidak ada yang mau mengambil karena apabila pergi dengan grup akan terpisah-pisah duduknya.  


Oiya, pada saat mengantri kereta, antrilah sesuai dengan nomor gerbong dan jenis keretanya.  Anda tinggal melihat ke lantai biasanya ada label besar seperti terlihat pada foto 1.  Anda tinggal melihat apakah jenis kereta anda dan antrilah sesuai nomor gerbongnya.  Untuk angka di sebelah kiri bawah (16 cars dan 8 cars) itu menandakan jumlah gerbong kereta.  Atau terkadang ada juga label antrian seperti pada foto 2.  Ini menandakan antrian urutan kereta yang datang.  Biasanya pada papan pengumuman elektronik di atas anda akan ditulis urutan kereta apa yang akan datang secara berurutan dari atas ke bawah.  Jadi antrilah pada antrian no. 1 (garis merah) apabila yang akan datang sekarang adalah kereta yang akan anda naiki dan apabila kereta yang akan anda naiki adalah yang datang sesudahnya anda bisa mengantri di pada antrian no. 2 (garis hijau).


Perjalanan ke Kyoto memakan waktu sekitar 45 menit, kami usahakan tidak tertidur agar tidak kelewatan stasiun.  Bagi anda yang merokok tidak usah khawatir karena biasanya di setiap kereta Shinkansen terdapat smoking area.  Anda tinggal melihat di sandaran kursi di depan anda biasanya ada map gerbong, tinggal cari saja smoking area terdapat di gerbong mana.  Harap diingat, smoking room Shinkansen paling hanya muat sekitar 3 orang, jadi kalau merokok jangan berbatang-batang, selalu lihat keluar smoking room, apabila sudah ada yang mengantri ada baiknya bergantian.


KYOTO
(京都)


Akhirnya kami tiba di Kyoto Station.  Mmm aura kota ini cukup berbeda dibanding Nagoya, tidak bisa saya ceritakan secara spesifik perbedaannya, tetapi bagi saya cukup terasa beda moodnya.  Tidak ada yang lebih baik atau lebih jelek, keduanya saya suka. 😃

Sedikit pengetahuan tambahan.  Walaupun kota Kyoto sekarang hanya sebuah ibukota Prefektur Kyoto, tetapi dulunya Kyoto adalah ibukota Jepang selama lebih dari 1.000 tahun (Heian Period) sebelum akhirnya dipindahkan ke Edo atau sekarang disebut Tokyo.

Secara total ada 47 Ken (県) / Prefektur / Rural Prefecture di Jepang.  Tetapi hanya ada 2  Fu (府) / Urban Prefecture di Jepang, yaitu Prefektur Osaka dan Prefektur Kyoto.  Urban Prefecture adalah semacam Daerah Istimewa kalau di Indonesia.  Dulu saya pernah menanyakan ke seorang teman yang orang Jepang kenapa Osaka dan Kyoto jadi Daerah Istimewa? Jawabnya, karena Kyoto dahulu adalah ibukota Jepang, dan Osaka dianggap sebagai pusat komersial Jepang. Jadi, bisa dibilang Kyoto adalah ibukota budaya Jepang.


EBISU RYOKAN
(えびす旅館)


Yak melanjutkan cerita perjalanan.  Untunglah Ebisu Ryokan tempat kami menginap tidak jauh dari stasiun.  Kami sudah menghubungi pihak Ryokan sebelumnya untuk menanyakan apakah mungkin kami early check-in atau paling tidak kami menitipkan koper terlebih dahulu sampai waktu check-in tiba kami bisa berjalan-jalan keliling Kyoto.  Direspon sangat cepat oleh pihak Ryokan, katanya worst case koper bisa dititip.  Mantep 😃

Sekitar 15 menit kami pun tiba di Ebisu Ryokan.  Lingkungan Ryokan ini enak sekali, tenang, kiri-kanan semua rumah, bukan supermarket ataupun mall.  Sunyi tapi menyenangkan.  Kami langsung disambut oleh resepsionis ryokan yang ternyata orang Korea Selatan.  안녕하세요 😃

Ternyata kami bisa langsung memasuki kamar kami karena ternyata sudah selesai dibersihkan.  Langsung masuk kamar kami yang tidak begitu besar namun nyaman dengan lantai tatami dan pintu kayu.  Wah ibu saya senang sekali bisa merasakan tinggal di ryokan.  Kami mendapat welcome tea & snack dan saking sukanya sama snack nya ibu saya tanya ke resepsionis beli dimana dan ternyata beli di seberang ryokan. :)

Selesai beres-beres dan mandi, kami harus segera mengisi perut, kebetulan sekali Aeon mall sangat dekat dari tempat ini, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki santai.  Kami pun menuju Aeon Mall untuk makan siang dan langsung menuju food court di lantai 4.  Kami makan di satu restoran ramen, namanya Echigo Noodle Shop Mujinzo Kyoto-hachijo-ya.  Panjang bener namanya haha, ini linknya.  Di jepang banyak sekali lunch discount, jadi ada baiknya memutar-mutar dulu melihat papan pengumuman yang terdapat di depan restorannya untuk melihat apakah ada discount atau tidak.  Tempat kami makan kebetulan ada pengumuman Easter Discount dengan harga sama tapi di upsize porsinya.


Tempat Membeli Makanan Terjangkau di Jepang

  1. Supermarket
    Jam terbaik untuk membeli makanan di supermarket adalah diatas jam 8 malam karena Bento dan Sushi Pack harus segera dijual sebelum basi jadi mereka akan memberi diskon untuk jenis produk tersebut sebesar 50% bahkan tidak jarang 70-80%.  Tetapi jangan dibeli lalu dimakan besok pagi ya, sama saja jadi basi juga haha
     
  2. Restoran Gyudon dan Curry
    Ini favorit saya.  Restoran seperti ini banyak yang buka 24 jam.  Contoh-contoh restoran seperti ini adalah Yoshinoya, Matsuya, Sukiya.  Rata-rata per menu set ditawarkan seharga 500 - 700 Yen dan mengenyangkan lho.
     
  3. Street Food Stall
    Saya sendiri kurang suka street food, cuma adik saya mencoba beberapa dan cukup mengenyangkan juga.  Terutama Takoyaki dan Okonomiyaki.
     
  4. Convenient Store
    Ini pilihan yang paling cepat karena Convenient Store seperti 7 Eleven dan Lawson banyak sekali tersebar di seluruh Jepang.  Favorit kami tentunya Onigiri.  Dengan harga 140-210 Yen, beli 2 sudah cukup mengenyangkan.
     

TO-JI
(東寺)


Karena hari pertama kami di Kyoto ini diluar rencana, kami mencari tempat yang dekat-dekat saja untuk melihat-lihat.  Setelah berembuk kami pun menuju To-ji yang tidak terlalu jauh dari Aeon Mall.  

Banyak pemandangan menarik selama perjalanan ke To-ji.  Matahari sore yang berwarna keemasan, banyak penduduk yang sedang bersih-bersih daerah sekitarnya dan seperti kota-kota lain di Jepang, banyak sekali penduduk yang bersepeda.  Lagi-lagi, saya betah sekali disini.

Akhirnya kami memasuki To-ji dari pintu Timur.  To-ji (East Temple) dan Sai-ji (West Temple) adalah kuil agama Buddha yang dibangun pada saat Heian Period (periode dimana pemerintahan Jepang pindah dari Nara ke Kyoto).  Kedua kuil ini mengawal gerbang Selatan (Rashomon) kota Heian (Kyoto) dan istananya.  Sayangnya Sai-ji dan Rashomon hancur dan tidak dibangun kembali.  Sekarang To-ji termasuk salah 1 UNESCO World Heritage.

Setelah puas melihat-lihat dan berfoto-foto di To-ji ibu saya meminta pulang untuk beristirahat karena hari pun sudah hampir gelap dan adik saya pun sepertinya 'teler' karena kemarin tidak tidur akibat bergadang bersama temannya di Nagoya.

Yasudah kami berjalan pulang dan di tengah jalan berpisah, ibu dan adik saya kembali ke Ryokan, saya beserta rombongan yang lain kembali ke Kyoto Station untuk membeli makan malam sekaligus reserved seat Shinkansen untuk ke Hiroshima besok pagi.

Selesai dari Kyoto Station, semua kembali ke penginapan kecuali saya yang masih ingin diluar.  Membeli bir di Circle K lalu berjalan-jalan untuk melihat-lihat sekitar hingga lelah dan akhirnya kembali ke Ryokan.

Hari ke 3 pun selesai, kami beristirahat agar besok fit untuk mengunjungi Hiroshima.  

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa subscribe ya untuk menerima update blog dan tips-tips travel dan photography dari saya setiap minggunya. 

Sampai bertemu di Day 4.  Hiroshima Peace Memorial Museum.

 

Wira Siahaan