Japan - A Family Adventure (Day 4 - Hiroshima)

Kami bangun cukup pagi hari ini, sekitar pkl. 06.00 pagi saya sudah mandi dan berjalan-jalan disekitar ryokan.  Sekitar 45 menit kemudian Hugo pun sudah selesai mandi dan keluar ryokan.  Kami berdua pun berjalan masuk ke setiap gang untuk melihat-lihat.  Banyak dari penduduk sekitar yang sudah keluar untuk bersih-bersih menyapa kami, "おはようございます。”  Di ujung jalan kami menemukan sebuah pohon Sakura yang dan Hugo minta di foto di bawahnya.  Pas sekali sinar matahari cukup lembut pagi ini, cocok untuk foto. 😃

Setelah semuanya siap kami pun segera berjalan menuju Kyoto Station.


Mengenal Kyoto Station

Hampir sama seperti Nagoya Station, secara umum Kyoto Station dapat dimasuki dari 2 pintu utama yaitu:

  1. Dari sisi Utara (Karasuma Side), menghadap Kyoto Bus Station dan Kyoto Tower. Pada Karasuma Side ini terdapat Central Gate (Pintu Utama) untuk masuk ke jalur kereta JR. BIC Camera, JR Kyoto Isetan, dan Hotel Granvia Kyoto juga ada di bagian ini.

  2. Dari sisi Selatan disebut Hachijo Side karena menghadap jalan Hachijo (Hachijo Dori). Hachijo Side menghadap New Miyako Hotel, Ibis Styles Kyoto Station Hotel, Avanti, serta Hotel Keihan Kyoto. Pada Hachijo Side ini terdapat Kintetsu Kyoto Station dan platform Shinkansen. Di seberang jalan (tepat di hadapan Avanti) adalah perhentian Airport Limousine Bus. Apabila anda membutuhkan Coin Locker, di bagian luar pintu masuk Hachijo Side terdapat banyak sekali coin locker.

Sebagai penghubung antara Utara dan Selatan terdapat 2 jalur, yaitu:

  1. Melalui lantai 2. Tangga ke lantai 2 terdapat di depan Sizuya Bakery di Hachijo Side Entrance dan di antara The Cube & Isetan di Karasuma Side.

  2. Melalui lantai B2 di sebelah Timur stasiun. Tangga turun terdapat di antara Bellmart & McDonald Hachijo East Side.

Karena Ebisu Ryokan tempat kami menginap di dekat Aeon Mall, jadi kami lebih sering menggunakan pintu Hachijo East Side untuk menaiki Shinkansen (di sebelah timur pintu Hachijo Side dan disekitar Matsuri Clock Square).

Kereta Hikari Shinkansen yang akan kami naiki berangkat pkl. 08.00 pagi, sebelum memasuki gate Shinkansen kami beli makanan dulu di Bellmart.  Sebenarnya di area Shinkansen terdapat banyak sekali penjualan makanan, cuma karena sudah keburu lapar jadi beli di luar saja.

Sambil mendengarkan "Travelling Without Moving (Jamiroquai)" salah 1 lagu favorit saya, tak sadar saya pun tertidur dan bangun kira-kira 20 menit sebelum tiba.  Perjalanan memakan waktu 1 jam 56 menit.  


HIROSHIMA
(広島)


Tiba di Hiroshima, wah terakhir saya kesini pada tahun 1995.  Sudah cukup lama.  Saya langsung mencari halte Hiroden.  Hiroshima Dentetsu atau sering disingkat Hiroden adalah sebuah transportasi street car yang dioperasikan oleh Hiroshima Electric Railway Co., Ltd.  Perusahaan ini berdiri sekitar tahun 1910, jadi sebuah perusahaan yang sudah cukup tua di Jepang.  Sebuah pengalaman yang cukup menyenangkan bagi anak kami menaiki Hiroden karena dia belum pernah melihat sebuah 'kereta' berjalan di jalan raya 😃   

Kami membeli tiket all-day pass Hiroden seharga 600 Yen.  Lucunya pass ini mirip ukurannya dengan JR Pass tetapi pada bagian dalam sisi kiri ada bagian yang harus anda gosok menggunakan koin, yaitu Tahun (2016-2018), Bulan (1-12), Hari (1-31).  Gosoklah di Tahun, Bulan, dan Hari dimana anda akan menggunakan pass ini.  Jangan salah gosok atau gosok lebih dari satu, misalnya anda menggosok 2017 dan 2018.  Pass anda langsung tidak berlaku.  

Peta Hiroden beserta waktu tempuh dari stasiun ke stasiun.  Anda tinggal melihat tujuan anda kemana dan lihat dilalui warna apa.  Contohnya yang kami naiki ke Genbaku Dome-mae bisa warna merah (no. 2) dan Kuning (No. 6), tetapi karena kereta merah datang terlebih dahulu kami naiki yang merah. Iseng-iseng saya coba hitung apa betul 17 menit dari Hiroshima Station menuju ke stasiun tujuan kami yaitu Genbaku Dome-mae. 


HIROSHIMA PEACE MEMORIAL MUSEUM
(広島平和記念碑)


Tepat 17 menit kami pun tiba di Genbaku Dome-mae Hiroden Station.  Luar biasa tepat waktu.  Dan luar biasa ngeselin karena tiba-tiba gerimis.  Menurut aplikasi Wunderground yang saya gunakan memang ramalan hari ini hujan sih, thunderstorm malah.  Cuma karena semuanya tetap niat mengunjungi Hiroshima akhirnya perjalanan ke kota ini tidak kami ganti.

Hujan rintik-rintik tidak menghalangi kami untuk berfoto di depan A-Bomb Dome.  Gedung yang dirancang oleh arsitek yang berasal dari Republik Ceko ini awalnya adalah Industrial Promotion Hall.  Penduduk Hiroshima sejak dahulu suka sekali dengan rancangan gedung bergaya Eropa.  Pada saat bom atom 'Little Boy' dijatuhkan di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 pkl. 08.15 pagi, gedung yang hanya berjarak 160 meter dari pusat ledakan ini pun hancur dan seisi gedung pun tewas.  Pada tahun 1966, Genbaku Dome didaftarkan sebagai UNESCO World Heritage dan menjadi simbol perdamaian dunia.

Setelah puas mengelilingi gedung ini kami berjalan terus menyeberangi jembatan menuju ke museum.  Dalam perjalanan menuju museum tiba-tiba hujan semakin deras, untunglah kami membawa payung dan jas hujan.

Di bagian depan museum ini terdapat Children's Peace Monument atau Atomic Bomb Children Statue yang dibangun untuk memperingati Sadako Sasaki yang meninggal akibat Leukimia yang diderita akibat radiasi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.  Tidak hanya untuk memperingati Sadako, monumen ini juga dibangun untuk memperingati anak-anak yang tewas akibat bom atom. Beberapa waktu sebelum Sadako Sasaki meninggal, Ia memiliki visi ingin membuat 1000 buah origami berbentuk burung bangau.  Menurut tradisi Jepang, apabila seseorang berhasil membuat 1000 buah origami burung bangau, permintaannya akan dikabulkan.  Permintaan Sadako sangat sederhana, dunia tanpa senjata nuklir.  Pada monumen ini terdapat ribuan origami burung bangau kiriman dari seluruh dunia dan monumen ini pun dibangun atas sumbangan banyak orang terutama anak-anak sekolah dan teman sekolah Sadako.  Pada tahun 5 Mei 1958 akhirnya monumen ini diresmikan tepat dengan peringatan hari Anak di Jepang.  Sayang sekali karena hujan badai kami hanya bisa melihat dan tidak bisa mengambil foto.

Kami langsung menuju ke dalam museum sekalian menghindari hujan.  Tiket masuk museum tidak mahal, hanya seharga 200 Yen.  Museum ini sedang dalam tahap renovasi yang dijadwalkan selesai tahun 2018, jadi terasa sangat sempit karena banyak barang museum dipadatkan dalam 1 ruangan.

Mengunjungi museum adalah salah 1 kebiasaan yang saya dapatkan dari ayah saya.  Beliau selalu membekali kami dengan pengetahuan sejarah dimanapun.  Pada saat kita menghargai apa yang terjadi di masa lalu, kita akan mengerti hari ini dan menjalani hari demi hari untuk membuat sejarah dan membuat sesuatu untuk diwariskan ke anak cucu.  Begitu pesannya.  Kebiasaan itu pun turun, kemanapun kami pergi berlibur pasti ada 1-2 museum yang kami kunjungi dan anak-anak suka sekali dengan museum.  Pertanyaan demi pertanyaan terus keluar dari mulutnya dan kami sebagai orang tua harus menjelaskan sesederhana mungkin agar dia mengerti.  Kesimpulan yang dia dapat setelah keluar dari museum ini cukup mengena, perang itu tidak baik.  😃

Kami pikir setelah lama di dalam museum, hujan badai di luar akan berhenti, eh ternyata semakin parah.  Kami berjalan saja susah karena anginnya kencang sekali.  Akhirnya kami pun berteduh di gift shop di ujung jembatan besar dan membeli minuman hangat.  Di dalam kami berdiskusi bagaimana melanjutkan perjalanan ke Miyajima Island.  Dengan sangat berat hati, karena memikirkan kondisi cuaca, ibu saya dan Hugo, terpaksa kami membatalkan perjalanan ke Miyajima Island dan memutuskan kita di Hiroshima saja beberapa waktu setelah itu kembali ke Kyoto.

Oke, perut sudah memanggil karena sudah saatnya makan siang.  Tapi hujan masih deras.  Demi makan siang, hujan pun kami terobos untuk menuju ke Hondori Avenue yang sangat dekat dengan museum.  


HONDORI AVENUE
(本通)


Tiba di Hondori Avenue dan kami tidak tahu harus pergi makan kemana.  Saatnya membuktikan kehebatan aplikasi GuruNavi.  Jalankan aplikasi, masukkan kriteria makanan yang kami inginkan dan budgetnya, dan muncullah beberapa restoran di sekitar kami yang sesuai dengan kriteria.  Ternyata masih waktunya Lunch Discount.  Lucky us 😃

Dipandu dengan google map akhirnya kami tiba di Matsuya. (Peta di bawah)

 

Aplikasi yang cukup menolong apabila anda sedang mengunjungi Jepang.  Saya menulis juga mengenai beberapa aplikasi yang saya gunakan khusus selama di Jepang dan saya rasa sangat berguna, bisa dibaca disini.

Matsuya adalah restoran anda harus memesan dan membayar terlebih dahulu di mesin di depan.  Setelah keluar ticket pesanan, anda tinggal membawa tiket tersebut dan memberikan kepada pelayan restoran.  Makanan disini cukup terjangkau, seharga 500 - 800 Yen.  Begini video cara memesan makanan menggunakan ticket machine.

Setelah kenyang kami kembali ke Hondori Avenue untuk melihat-lihat.  Karena yang ingin dilihat berbeda, akhirnya kami memisahkan diri menjadi 2 grup, kebetulan ada 2 buah pocket Wi-Fi jadi tidak masalah untuk berpisah.

Saya dan adik saya melihat-lihat toko buku, toko mainan, toko alat musik, dan akhirnya karena lelah kami 'ngopi' di Tully's Coffee.

Setelah berkumpul kembali kami memutuskan untuk kembali ke Kyoto mumpung masih sore.  Dalam perjalanan kembali ke halte Hiroden Genbaku Dome-mae tiba-tiba cuaca memburuk dan angin super kencang sehingga berjalan pun sangat sulit, bahkan payung kami pun hampir tertiup karena saking kencangnya.  Untungnya sudah sangat dekat dengan halte dan Hiroden sudah datang.

Tiba di Hiroshima Station kami langsung menuju JR Office untuk mengganti jadwal reserved ticket kami.  Karena cuaca sangat buruk banyak turis memutuskan untuk pulang sehingga kereta penuh, kami tidak mendapatkan Shinkansen yang sekali jalan dan terpaksa menyambung melalui Shin-Osaka Station.  Itupun kami menaiki Shinkansen yang non-reserved karena reserved-seat sudah penuh.

Tiba di Shin-Osaka Station kami mencari makanan sebentar di convenient store sebelum melanjutkan perjalanan ke Kyoto.

Tiba di Kyoto dan ternyata disini pun hujan deras.  Ampun dah.  Kami tiba di ryokan dengan kondisi super lelah.  Setelah mandi saya masih menyempatkan keliling sekitar ryokan sendirian untuk foto-foto sekalian nyari bir.

Kesal? tentu!  Saya sudah sangat berharap ingin mengunjungi Miyajima Island, hanya tinggal sedikit tapi terpaksa dibatalkan.  Tidak ada yang bisa disalahkan.  Saya berkeliling untuk menghibur diri.  Beginilah perjalanan.  Tidak ada satupun hal yang bisa dipastikan, yang bisa kita lakukan hanya menikmati perjalanan.  Setiap kejadian selalu menjadi cerita pada saat kita tiba di rumah nanti dan akan jadi kenangan tersendiri hehe.  Lagi-lagi saya menghibur diri.

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa subscribe ya untuk menerima update blog dan tips-tips travel dan photography dari saya setiap minggunya.  Sampai jumpa di part 5 - Fushimi Inari, Toei Kyoto Studio Park.

Wira Siahaan