Jalan-jalan Ke Pasar Lama Tangerang dan Pabrik Dodol

"Mas jangan lupa ya tar kasih saya fotonya", kata salah satu penjual buah di Pasar Lama Tangerang waktu saya minta ijin memotretnya waktu sedang berjualan.  Itu salah 1 dari banyak respon para penjual sewaktu kami 'hunting' foto.  Mungkin karena sering melihat fotografer datang untuk hunting, para penjual disini sudah terbiasa melihat kamera. 

Pasar Lama Tangerang dan Pabrik Dodol Ny. Lauw adalah dua tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi dan akhirnya kesampaian bersama grup dari infofotografi.com.  


PASAR LAMA TANGERANG

 

Pasar ini tidak terlalu terlihat dari jalan besar karena terletak di belakang ruko-ruko.  Bagi yang membawa mobil, dari Jl. Kisamaun masukilah gapura biru besar yang bertuliskan Kawasan Kuliner Pasar Lama Tangerang.  Lurus saja sekitar 450m anda akan menemukan pertigaan lalu belok kanan dan ikuti saja jalan hingga menemukan kali Cisadane di depan anda.  Belok kanan dan parkirlah di tepian kali Cisadane.  Jika memungkinkan tibalah sekitar pkl. 07.00 agar kebagian parkir.  Jika tidak, parkir di kali ini pun pasti penuh.  Setelah parkir, masukilah Jl. Cilangkap di seberang anda dan anda akan menemukan Klenteng Boen Tek Bio di ujung jalan.

Sepanjang Jl. Cilangkap anda akan menemukan rumah-rumah bergaya arsitektur Tiongkok di kiri dan kanan jalan.  Ada beberapa rumah yang masih memiliki ilustrasi bergaya Tiongkok di tiang-tiang penyangga rumahnya.  Cukup unik.

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 400, f/5.6, 1/80 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 400, f/2.8, 1/400 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/3.2, 1/8000 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/2.8, 1/3500 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/2, 1/8000 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 400, f/6.4, 1/240 | Classic Chrome Film Simulation

Jalan-jalan ke kawasan Pasar Lama Tangerang pasti menemukan Klenteng Boen Tek Bio.  Klenteng ini adalah yang tertua dari 3 Klenteng yang ada di Tangerang.  Umurnya diperkirakan lebih dari 300 tahun.  Klenteng ini tidak terlalu besar, jadi membutuhkan waktu yang tidak lama untuk melihat-lihat bagian luar dan dalam.

 

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/1.2, 1/2900 | Classic Chrome Film Simulation

 
 

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/1.2, 1/1000 | Classic Chrome Film Simulation

 

Kawasan pasar dimulai dari sekitar Klenteng ini.  Dengan asumsi anda menghadap Klenteng, dengan memasuki jalan di sebelah kanan, anda sudah memasuki area pasar.  

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/2.8, 1/3500 | Classic Chrome Film Simulation

Berjalan lurus sedikit anda akan menemukan pertigaan, ke kiri terdapat area penjualan ikan, daging, dan sayur-mayur.  Juga terdapat Museum Benteng Heritage, sebuah bangunan bergaya arsitektur Tiongkok yang direstorasi.  Bangunan ini adalah zero point Kota Tangerang, karena disinilah awalnya Kota Benteng terbentuk.  Di dalam museum ini terdapat sejarah kehidupan etnis Tionghoa, barang-barang peninggalan tua, dan paket-paket kuliner yang juga dilayani oleh Museum ini.  Untuk mengunjungi museum ini anda harus membuat janji dulu, bisa dikontak disini

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1000, f/3.6, 1/60 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/5.0, 1/140 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/1.2, 1/5800 | Classic Chrome Film Simulation

Kembali ke pertigaan jalan, apabila anda mengambil jalan lurus, anda bisa menikmati banyak jajanan khas pasar ini di sebelah kiri jalan hingga ke ujung jalan dan menembus ke daerah ruko.  Buat saya, hunting di pasar ini saya kurang konsentrasi, kenapa? Jajanannya banyak!  Dibanding motret, sepertinya saya lebih banyak nyicipin makanan.  Wangi sate yang dibakar sangat menggoda, gimana mau konsen motret hehe.

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 500, f/5.6, 1/60 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 400, f/3.2, 1/420 | Classic Chrome Film Simulation

Kebutuhan Imlek sudah mulai dijual di pasar ini.
Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 400, f/4.5, 1/100 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 400, f/2.8, 1/140 | Classic Chrome Film Simulation

Kami hanya memiliki waktu 60 menit untuk mengunjungi tempat ini karena tujuan selanjutnya sudah menanti, yaitu Pabrik Dodol Ny. Lauw.  Jarak dari tempat ini ke Pabrik Dodol Ny. Lauw kurang lebih 14 km, apabila tidak macet bisa dicapai sekitar 15-25 menit menggunakan mobil.


PABRIK DODOL NY. LAUW


Cukup sempit parkiran mobil di depan pabrik ini, apalagi dengan banyaknya media yang ingin meliput.  Pabrik ini berdiri sejak tahun 1962 dan merupakan usaha keluarga. Pemiliknya adalah Nyonya Lauw Nyim Keng alias Bu Siti. Tempat ini cukup banyak diburu fotografer dan media-media karena metode pembuatan dodol dan kue keranjang yang masih tradisional.  Menjelang Imlek, order pun meningkat hingga Ny. Lauw harus menambah para pekerjanya.  Terutama produksi Kue Keranjang yang hanya diproduksi menjelang Imlek.  Jadi gak heran kalau di dalam sumpek manusia, semakin ditambah fotografer dan para media, semakin sumpek.  Untuk itu ada baiknya menelepon dulu sebelum mengunjungi tempat ini.

Pabrik ini terbagi menjadi 4 bagian, yaitu pertama pintu masuk sekaligus tempat penjualan Dodol.  Bagian berikutnya adalah tempat penyimpanan dodol dan kue keranjang.  Setelah itu adalah tempat pembuatan kue keranjang dan di paling belakang adalah tempat pengadukan dodol.  Walaupun ada ruangan terbuka, tempat pengadukan dodol cukup panas karena ada sekitar 8 kuali menyala.  Pengadukan dodol membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam untuk siap saji.  Selesai atau tidaknya pengadukan akan ditentukan oleh pemilik pabrik berdasarkan sampel yang dibawa.

Persediaan kayu bakar untuk memasak dodol.
Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 3200, f/4, 1/500 | Classic Chrome Film Simulation

 
 Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/2.8, 1/60 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/2.8, 1/60 | Classic Chrome Film Simulation

 

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 3200, f/5.6, 1/500 | Classic Chrome Film Simulation

 Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 2500, f/3.2, 1/500 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 2500, f/3.2, 1/500 | Classic Chrome Film Simulation

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/1.2, 1/1800 | Classic Chrome Film Simulation

 

Pekerja mengaduk dodol selama 4-5 jam.
Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 800, f/5, 1/60 | Classic Chrome Film Simulation

 

Proses pengambilan sample untuk dibawa ke pemilik pabrik.
Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1000, f/6.4, 1/60 | Classic Chrome Film Simulation

 Pemilik pabrik melakukan pengecekan. Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/2.8, 1/200 | Classic Chrome Film Simulation

Pemilik pabrik melakukan pengecekan.
Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/2.8, 1/200 | Classic Chrome Film Simulation


Tidak bisa berlama-lama di ruangan pengadukan dodol karena cukup banyak fotografer yang datang jadi sebaiknya bergantian.  Kami pun melanjutkan di ruang pembuatan kue keranjang.  Kue Keranjang atau Kue Ranjang atau Nian Gao (年糕) ini hanya diproduksi menjelang Imlek.   

 

Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 1000, f/2.8, 1/60 | Classic Chrome Film Simulation

 

Nian Gao, kata Nian (年) sendiri berati tahun dan Gao berarti kue (糕) dan juga terdengar seperti kata tinggi (高), oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran.

Kue yang terbuat dari tepung, ketan, dan gula.  Beras ketan ditumbuk, diayak, lalu dicampur dengan gula putih dan difermentasi selama 7 hari.  Setelah itu diaduk lalu dimasukkan ke cetakan berbentuk keranjang beserta daun pisang dan dikukus ke pengukusan berbentuk kotak besar dan tinggi.  Proses pengukusan membutuhkan waktu 12 jam dan setelah itu dikeluarkan untuk didinginkan dengan suhu ruangan.  Siap saji :)

Cetakan kue keranjang.
Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/2.5, 1/1000 | Classic Chrome Film Simulation

Kue keranjang sudah selesai dikukus dan siap dikeluarkan.
Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/1.2, 1/150 | Classic Chrome Film Simulation

 

Kue keranjang yang sudah selesai dikukus dan akan didinginkan.
Fujifilm X-T2 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/1.2, 1/60 | Classic Chrome Film Simulation

 

Dibawah ini adalah foto-foto para pekerja kue keranjang yang terdiri dari ibu-ibu.


Banyak makna yang diwakili oleh kue keranjang ini, yaitu:

  1. Tepung ketan yang lengket melambangkan persaudaraan yang erat.
  2. Rasa yang manis melambangkan sukacita, berkat, dan pikiran yang positif.
  3. Bentuk bulat melambangkan kekeluargaan, semua setara, tidak ada yang lebih penting.
  4. Tekstur yang kenyal melambangkan kegigihan dalam perjuangan.
  5. Kue ini tahan lama, melambangkan hubungan kekerabatan yang abadi dan kesetiaan.
  6. Proses pembuatan yang lama mulai dari penumbukan ketan hingga penyajian melambangkan kesabaran dan keteguhan.

Bagus ya maknanya :)

Di tempat ini pun kami tidak berlama-lama karena takut mengganggu produksi pabrik.  Setelah puas memotret kami pun berbelanja dodol untuk dibawa sebagai oleh-oleh keluarga di rumah.  Bagi yang ingin memesan bisa langsung menghubungi di alamat dan nomer dibawah ini:


Pabrik Dodol Ny. Lauw
Jl. Bouraq No.55 Rt.01/02 (Gang SPG)
Lio Baru Kel. Karangsari – Neglasari, Kota Tangerang
(021) 5524587 / 08161869828

 

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa subscribe ke newsletter saya ya untuk info-info seputar fotografi dan cerita-cerita perjalanan.  Oiya, terima kasih juga untuk Ned yang sudah meminjamkan lensa Fujinon XF 56/1.2 miliknya.  Cheers :)

 

Jakarta, 2018
Wira Siahaan