Berkarya di Mana Saja Bisa

Kemarin sebenarnya saya cukup malas untuk ikut ke Central Park.  Kenapa? Ada beberapa alasan, yang paling utama, saya tidak suka ke mal kalau tidak ada keperluan yang spesifik.  Saya bukan tipe yang suka pergi ke mal untuk jalan-jalan atau kongkow-kongkow.  Saya lebih suka ke coffee shop atau tempat yang tidak terlalu berisik.  Kedua, menemani istri arisan.  Jangan salah mengerti ya, bukan tidak suka menemani istrinya, tapi tidak suka karena saya tidak tahu nanti harus ngapain di arisan yang isinya ibu-ibu semua hahaha.  Ketiga, pikiran saya  masih di laptop, banyak yang harus saya kerjakan.  Ya kita tidak hidup sendirian, tidak bisa maunya kita saja, harus seimbang agar sama-sama senang.  Keempat, Central Park. B. O. S. A. N. Saya sudah membayangkan, "Nanti pasti nongkrong di Tribeca, trus mereka ngobrol-ngobrol, gua mentok-mentok ke smoking area, ngerokok, browsing, trus gua ke Gramedia baca-baca buku, trus gua ke ke Starbucks buat ngopi, dan seterusnya."  Ketebak!

Di saat seperti ini temen saya ya kamera.  Kadang di tempat yang membosankan kalau kita punya pemikiran baru kita bisa saja kok berkarya.  Cerita singkatnya seperti ini.  Seperti biasa kami parkir di bawah, trus naik ke atas langsung ke Tribeca depan Nanny’s.  Pas depan Nanny’s ada kolam ikan.  Semua juga tau.  Ikan yang sama.  Crowd yang sama.  Tapi ada satu yang beda, anak saya, Hugo.  Umurnya sekarang sudah hampir 6 tahun, keingintahuannya terhadap banyak hal juga semakin besar.  Biasanya dia tidak begitu tertarik melihat kolam ikan, tapi kali ini berbeda.  Pas dia lihat kolam, saya langsung diberondong sama rentetan pertanyaan.  “Pa kenapa ikan mulutnya cuap-cuap?” “Pa kenapa ikan kok nyamperin kita padahal kita gak bawa makanan?” “Pa kenapa ada yang item ada yang warna/i?”  Dan masih banyak pertanyaan lain.  Apalagi pas ada beberapa pengunjung yang membawa makanan ikan dan memberi makan, wah dia takjub sekali, melihat tak bergeming.  Termenung. Senyum sendiri.


Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up.
— Pablo Picasso

Di saat seperti ini, saya sambil menjelaskan sebisa saya, tangan juga tidak berhenti motret.  Memotret anak kecil harus cepat karena mereka mudah sekali teralihkan atau lelah.  Cari momen cari sudut bagus.  Fantasi bermain.  Sekejap semua lukisan foto, film, komik, dan semua hal yang berhubungan dengan kolam dan ikan lewat di ingatan secepat kilat.  Tidak detil, hanya sebatas impresi.  Berusaha menghasilkan sesuatu di momen yang cuma 10-15 menit.  Di saat-saat seperti ini kita harus peka, peka terhadap apa yang sedang dan akan terjadi.  "Gimana dong latihan biar peka?"  Kepekaan itu menurut saya tidak bisa diajarkan karena kepekaan semakin tajam karena banyak berlatih.  Menurut saya, saya tidak berbakat kok fotografi, cuma saya memang suka motret dan motret hampir tiap hari. 

Handphone istri saya pun berdering karena sudah harus bertemu teman-temannya di Kitchenette, bermain ikan pun harus selesai.  Saya pun memisahkan diri sebentar ke smoking area Tribeca, nyantai sambil transfer foto ke ponsel untuk edit kilat menggunakan Adobe Lightroom Mobile.  Thank you for technology.

Saya mendapatkan 5 foto yang menurut saya bagus untuk dijadikan photo story.  "Lha, kok cuma 5 Wir? Dikit amat!"  Sebenernya saya menghasilkan lebih dari 60 frame selama kurang lebih 15 menit.  Tetapi setelah kurasi kilat, yang layak menurut saya hanya 5 foto.  Menurut saya, belajar menilai foto sendiri itu penting, karena seharusnya kita bisa menentukan apakah hasil foto kita sudah sesuai dengan kriteria yang kita tentukan.  Kriteria menilai apa yang pas? Tergantung lagi mengerjakan karya apa.  Menilai photo story dan single photo jelas berbeda.  Karena saya sedang mengerjakan photo story, saya melihat rangkaian 5 foto yang pas untuk bercerita.  Walaupun secara image quality bagus tetapi tidak cocok untuk photo story, saya dengan tega menyisihkan foto tersebut dan memilih yang lain.  

Setelah menemukan 5 foto yang cocok, kelima foto tersebut saya betulkan exposure dan crop sedikit.  Saya hampir tidak pernah mengkutak-kutik warna karena sebelum memotret saya sudah memilih film simulation yang saya inginkan di dalam kamera.  Untuk photo story ini saya memilih Pro Negative Hi agar lebih contrast.  Tips dari saya dalam hal memotret yang selalu saya bagikan ke murid-murid di kelas adalah kuasai kamera yang dimiliki dan usahakan menghasilkan foto sudah bagus di kamera dan editlah seperlunya.  Saya menggunakan lensa Fujinon XF 23mm 1.4 sejak dari tahun 2014.  Body awal mulanya menggunakan Fujifilm X-T1, lalu X-T1 pun rusak dan saya memutuskan menggantinya dengan Fujifilm X-T2.  Saya tidak pernah memiliki kamera digital merk lain.  Bukan karena tidak ingin memiliki kamera merek lain, saya tetap masih ingin memiliki Ricoh GR, ingin memiliki Leica M10, cuma saya memang tipe orang yang tidak begitu suka ganti-ganti brand.  Saya lebih memilih untuk menggunakan satu merek kamera hingga tahu kekurangan dan kelebihannya lalu menghasilkan sesuatu dari kamera tersebut.  Hal-hal teknis yang penting harus dikuasai sehingga pada saat memotret kita tidak direpotkan dengan kebingungan-kebingungan teknis yang mengakibatkan lewatnya momen bagus.


You don’t take a photograph, you make it.
— Ansel Adams

Selain hal teknis, untuk menghasilkan sebuah karya hal-hal non-teknis pun tidak kalah penting.  Terutama untuk berkarya di tempat-tempat yang kurang menggugah kreativitas, imajinasi dan inspirasi memegang peranan penting.  Tempat-tempat yang kurang menggugah kreativitas bagi saya adalah tempat-tempat yang sudah terlalu sering kita datangi seperti rumah kita sendiri, mal-mal yang sering saya datangi, sekolah/kampus, tempat kerja, rute pulang-pergi setiap hari, dan lain sebagainya.  Saya sendiri untungnya tidak pernah kehabisan imajinasi karena saya dari 'sononya' suka membaca dan berimajinasi.  Yang saya baca cukup bervariasi, yang pasti saya tidak suka membaca buku pengembangan kepribadian dan buku agama.  Buku-buku yang saya koleksi itu seperti buku-buku Mythology, sejarah dunia, buku-buku foto karya fotografer luar negeri maupun dalam negeri, manga (komik Jepang), biografi, dan novel fiksi ber-genre fantasy tentunya.  Untuk film saya suka mengkoleksi Bluray film-film dokumenter perang dunia, lingkungan, sejarah, dan film-film Box Office yang menurut saya bagus.  Selain itu sampai dengan umur segini saya masih tetap suka bermain games, mengoleksi boardgames, dan menonton Anime hahaha.  Lalu saya juga suka mendatangi pameran lukisan dan fotografi.  Berdiskusi dengan teman-teman yang berbeda cara pandang juga penting untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu.  Bermain catur juga termasuk salah satu kegiatan yang cukup saya tekuni.  Inspirasi bisa datang darimana saja, beda orang beda cara.  Cara saya belum tentu cocok dengan orang lain dan begitupun sebaliknya.

"Jadi karya lu dah keren Wir?"  Wah keren atau tidak itu buat saya tidak jadi urusan.  Yang jadi urusan saya adalah yang ada di kepala saya bisa dikeluarkan dan diwujudkan.  Jangan nunggu sudah bisa baru mau berkarya.  Berkarya ya berkarya aja.  Jelek bagus itu relatif, yang penting adalah progress.  Karya berikut dibandingkan karya sebelumnya bagaimana? Nilai sendiri saja.  


Every artist was first an amateur.
— Ralph Waldo Emerson

Saya menjadikan kepuasan pribadi saya dalam berkarya menjadi prioritas.  Saya tidak pernah mengerti genre-genre fotografi.  Buat saya motret ya motret.  Mau genre apa, kualitasnya bagaimana, saya serahkan saja sama pengamat. 

Demikian curhat saya perihal berkarya.  Bukan mengajarkan karena saya tidak punya apa-apa untuk diajarkan.  Tulisan ini hanya sebuah cerita bagaimana cara saya dalam menghasilkan karya 5 foto seri yang dihasilkan dari kegiatan yang sangat biasa.  Semoga menghibur .

Berikut hasil photo story dari cerita ini.  

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa untuk subscribe ya :)

 

Wira Siahaan