Memori Sawarna

Sudah lama saya ingin pergi ke tempat ini cuma ya seperti biasanya, susah sekali mengatur waktunya.  Banyak sekali saya lihat foto-foto para fotografer handal yang bagus-bagus membuat saya penasaran untuk mengunjungi tempat ini.  Setelah membuat janji dengan teman saya Rian dan Kevin, akhirnya pun kesampaian untuk mengunjungi tempat ini.

Selain untuk melepas kepenatan dari ibukota kami juga ingin mengambil beberapa foto di spot yang sudah kami pikirkan sebelumnya.  Perjalanan dari Jakarta ke Sawarna tidak akan saya bahas secara mendetail disini karena sudah ada banyak blog yang bagus-bagus dan cukup mendetail menjelaskan rutenya. 

Rute menuju Sawarna yang kami pilih

Yang pasti berhati-hatilah apabila membawa mobil sendiri, rute cukup jauh, berhentilah apabilah sudah lelah.  Jalan yang berliku-liku dan naik-turun membuat kita cepat lelah.  Karena kami pergi tidak bertepatan dengan hari libur, jalan cukup sepi dan mobil pun bisa kami parkir dekat dengan pintu masuk (samping indomaret).  Bayar parkir Rp. 25.000/mobil/hari.

TIket masuk Sawarna tidak mahal, hanya Rp.  5.000,- / orang.

Kami tinggal di Homestay Alia, posisi kira-kira di tengah antara pintu masuk dan pantai.  Tempatnya bersih, persis di samping sawah jadi segar sekali pagi-pagi.  Per hari kami dikenakan Rp. 400.000 dengan kamar full AC dan cukup luas untuk kami bertiga.  Untuk makan kami dikenakan makan Rp. 60.000 per makan.  Bagi yang ingin menginap di Alia bisa langsung menghubungi Bpk. Heri (0857-7503-1014).


PANTAI PASIR PUTIH


Hari pertama karena kami tiba sudah sore, kami langsung ke pantai pasir putih, pantai yang terdekat dari penginapan kami.  Dari jauh saja bau pantai sudah tercium dan karena ini hari biasa, bukan hari libur, pantai ini sepi, tidak banyak orang yang berkunjung.  Jadi kami bisa puas menikmati mengambil foto tanpa terganggu banyak orang :)

Terus berjalan menyusuri pantai sampai akhirnya kami tiba di Pantai Tanjung Layar.  Pantai ini bersampingan dengan Pantai Pasir Putih.  Pantai ini khas dengan dua karang besar dengan bentuk segitiga, semacam membentuk layar.  Nah di pantai ini ternyata cukup ramai, karena kami tiba pada saat waktu surut, banyak orang berfoto-foto di sekitar karang sambil menunggu sunset.

Tepat di pinggir pantai ada warung kopi dan kami memutuskan memasukkan kamera kami dan menikmati sunset saja tanpa harus dihalangi kamera di depan mata hehe.  Sekali-kali momen bagus harus dinikmati tanpa harus difoto, kalau ada yang bilang ‘no pic = hoax’ ah biarlah, hanya kami yang merasakan nikmatnya menikmati matahari turun perlahan sampai hilang dibalik horizon dan langit pun berubah menjadi biru :)


PANTAI TANJUNG LAYAR


Setelah gelap kami pun berjalan pulang ke penginapan untuk mandi dan makan malam.  Setelah makan kami pun berdiskusi dengan pemilik hotel bagaimana apabila kami ingin pergi ke Karang Bereum (Sunrise Beach), Pantai Legon Pari, dan Karang Taraje.  Akhirnya disepakati lah biaya sebesar Rp. 200.000,- untuk sewa 2 motor dan 1 guide.

Menu khas Sawarna


MENCARI BINTANG - PANTAI TANJUNG LAYAR


Nah untuk menghabiskan malam, kami memutuskan untuk astrophotograpy di Pantai Tanjung Layar.  Setelah melihat kondisi cuaca sehari ini kami yakin malam nanti bintang pasti terlihat jelas.  Kami pun berjalan menuju Pantai Tanjung Layar kira-kira pkl. 20.00 ditemani guide kami mas Jali.

Saran saya, bawa autan yang banyak, nyamuknya banyaknya minta ampun.  Lalu jangan lupa juga bawa senter karena perjalanan cukup gelap dan air sudah pasang jadi harus extra hati-hatiIni pengalaman pertama saya foto bintang dan cukup berkesan.  Bintang-bintang bertebaran banyak sekali hingga terlihat milky way.

Setelah puas foto bintang kami pun pulang dan bersiap untuk bangun subuh.


MENGEJAR SUNRISE KE KARANG BEREUM


Keesokan harinya kami bangun pkl. 04.00, mas Jali sudah menunggu di depan, kami naik motor menuju Karang Bereum untuk mengejar sunrise.  Bagi yang membawa motor disarankan pelan-pelan saja jangan buru-buru, jalanan hancur parah menuju pantai, jadi disarankan berangkat cukup pagi bersama guide.  Perjalanan memakan waktu kira-kira 45 menit menuju ke Karang Bereum


KARANG BEREUM


Tiba di pantai kami langsung cari posisi masing-masing untuk mencari spot yang sesuai.  Karena ini hari biasa, pantai sepi :)  O ya, hati-hati di pantai ini, arus baliknya cukup keras menarik dan lihat-lihat kemana kaki melangkah, jangan sampai jeblos dan terbawa.  

Setelah mendapat hasil yang kami inginkan, kami duduk-duduk di pinggir pantai menikmati matahari pagi menyapa wajah kami.  Nikmat :)  Yak, langsung menuju Pantai Legon Pari.


PANTAI LEGON PARI


Tiket masuk pantai ini tidak mahal, sebesar Rp. 10.000,- untuk dua lokasi yaitu Pantai Legon Pari dan Karang Taraje.

Kami tidak lama menghabiskan waktu di Legon Pari karena kami lebih mengutamakan Karang Taraje yang katanya keren banget :)


KARANG TARAJE


Tiba di pintu masuk Karang Taraje saya bingung mana Karang Tarajenya.  Ternyata kami harus menyusuri pinggir karang sambil menyender di dinding karangnya.  Cukup bahaya tentunya, tetapi asal berhati-hati dan mengikuti apa kata guide, lancar tiba di tempat dan saya jamin terbayar pada saat tiba di Karang Tarajenya.  Saya sendiri cukup takjub melihat apa yang di depan mata saya mengingat menuju ke tempat ini kok cukup repot ya.  Baju celana basah semua kehantam ombak.  Luar biasa tempat ini!

Cukup lama kami menghabiskan waktu disini, guide kami sampai tertidur haha.  Puas pokoknya.  Setelah selesai kami ngopi-ngopi di pinggir pantai Legon Pari sambil ngobrol-ngobrol dengan penjaga disitu.

Hari ini kami habiskan dengan mengulangi lagi lokasi-lokasi yang sama di sekitar penginapan kami sampai dengan Pantai Tanjung Layar.

Keesokan harinya kami pun pulang menuju Jakarta dengan rasa puas dan bahagia.

Total biaya yang kami habiskan selama 3 hari 2 malam adalah sebesar Rp. 699.000,- / orang.  Sudah termasuk makan, bensin mobil, tol, kopi, es kelapa, dll.  Tidak begitu mahal kan? kadang ke mall saja lebih dari situ hehe.


NOTES


  1. Patuhi segala aturan yang disana demi keselamatan sendiri.  Pantai Selatan terkenal cukup kejam, jangan ‘ugal-ugalan’.  Pada saat kami disana ada satu kejadian yang menghilangkan nyawa seorang bapak karena bapak tersebut berenang tanpa mematuhi peringatan yang ada.
  2. Bawa obat-obatan pribadi.  Yang umum bawalah band aid dan obat merah karena karang-karang cukup tajam.  Autan sangat perlu apabila ingin hunting foto malam hari.
  3. Jangan tinggalkan barang berharga di mobil.
  4. Tolong jangan ‘nyampah’, masih banyak saya lihat botol-botol minuman berserakan di sekitar pantai.  Anggap saja rumah sendiri, pasti gak ingin kan rumah kita kotor?
  5. Bagi yang ingin berfoto bersama grup, selfie, ataupun para fotografer, ingat ini tempat umum, kita gak sewa ini tempat khusus untuk kita, tidak ada istilah first come first serve atau nge ‘tek’ tempat disini, gantian bro & sis!  Terutama momen-momen yang tidak lama seperti sunrise dan sunset, please gantian.  Banyak orang yang datang juga ingin foto, kesadaran saja, saya sering melihat-lihat ke belakang takutnya ada yang mengantri, atau apabila saya melihat dia mondar-mandir di sekitar saya, saya biasanya bertanya, ‘mau foto disini juga pak/bu? kalau mau tidak apa kita gantian pak/bu’.  Atau yang selesai foto langsung pindah spot saja.  :)
  6. Bagi yang ingin mengambil foto-foto orang lokal, tidak ada salahnya ijin dulu, baik-baik kok :)

Yang pasti saya pasti akan kembali lagi kesini, terutama Karang Taraje yang bagi saya cukup 'magical'.  

Demikian ringkasan perjalanan saya di Sawarna, kiranya menginspirasi pembaca sekalian untuk melakukan travel terutama dalam negeri.  Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Terima kasih sudah membaca.


Wira Siahaan