1. Memahami Exposure Triangle

Wherever there is light, one can photograph.
— Alfred Stieglitz (1864 – 1946)

Fotografi berasal dari bahasa Yunani yaitu Photos yang artinya 'cahaya' dan Grafos yang artinya 'melukis'.  Jadi fotografi adalah melukis menggunakan media cahaya.  Kamera adalah salah satu alat untuk menangkap cahaya.  Tidak ada cahaya, tidak ada foto.

Dibutuhkan intensitas cahaya yang pas agar bisa menghasilkan sebuah foto yang baik.  Exposure Triangle atau segitiga pencahayaan adalah sebuah cara yang umum untuk mengasosiasikan 3 variabel penting yang menentukan pencahayaan sebuah foto, yaitu aperture (bukaan), shutter speed (kecepatan rana), dan ISO.  Seorang fotografer harus menyeimbangkan ketiganya untuk menghasilkan sebuah foto sesuai yang diinginkan atau dibayangkan.  Penyesuaian pada satu variabel akan mempengaruhi dua variabel lain.  Tidak hanya akan mempengaruhi pencahayaan, keseimbangan ketiga variabel tersebut akan mempengaruhi bagaimana tampilan dan kesan dari foto tersebut.  Makadari itu penguasaan akan exposure triangle adalah hal yang sangat penting bagi seorang fotografer.

Exposure Triangle pada kamera Fujifilm X-T2 dengan Fujinon XF 56mm f/1.2 lens.


Variabel 1
Aperture (Bukaan)


Aperture Ring pada lensa Fujinon XF 23 f/1.4

Secara sederhana, aperture adalah lubang pada lensa, dimana melalui lubang tersebut cahaya akan masuk.  Semakin besar aperture semakin banyak cahaya yang masuk, semakin kecil aperture semakin sedikit cahaya yang masuk.  Iris pada lensa yang mengendalikan ukuran diameter sebuah aperture disebut sebagai diaphragm.  Fungsi utamanya adalah mengontrol seberapa banyak cahaya yang boleh masuk ke dalam.  Aperture dinyatakan dengan f-numbers / f-stop (sebagai contoh f/8).  Semakin kecil angka f-stop semakin besar aperture, semakin besar angka f-stop semakin kecil aperture.

Aperture bisa dianalogikan dengan jendela, semakin besar ukuran jendela semakin banyak cahaya yang masuk, semakin kecil ukuran jendela semakin sedikit cahaya yang masuk.

Apa itu Depth of Field?

Ukuran aperture memiliki dampak langsung terhadap Depth of Field atau biasa disingkat DoF, yaitu sebuah zona ketajaman yang dapat diterima di depan dan di belakang subjek dimana lensa difokuskan.  

Ada foto yang memiliki zona fokus kecil atau biasa disebut Shallow DoF, ada juga foto yang memiliki zona fokus besar atau biasa disebut Deep DoF.  Aperture dengan f-number besar seperti f/16 (yang berarti aperture kecil) akan membuat foreground dan background foto masuk dalam zona fokus, lain halnya dengan f-number kecil seperti f/1.2 (yang berarti aperture besar) akan mengisolasi foreground dengan background dengan cara membuat subyek pada foreground tajam dan background buram.

f/1.2

f/16

Lens Aperture

Setiap lensa memiliki batas seberapa besar dan seberapa kecil aperture.  Jika anda melihat spesifikasi lensa anda, akan terlihat angka yang menunjukkan batas maksimum dan minimum aperture lensa tersebut.  Aperture maksimum lensa anda sangat penting karena menunjukkan seberapa cepat lensa tersebut.  Kenapa?  Karena dengan aperture besar, misalnya f/1.2 akan memungkinkan cahaya masuk lebih banyak dibandingkan dengan f/4.

Ada 2 tipe lensa yang ada sekarang ini yaitu Fixed atau sering disebut sebagai Prime dan yang kedua adalah Zoom.  Lensa Zoom memiliki kelebihan yaitu fleksibilitas untuk zoom in dan zoom out tanpa harus mendekat atau menjauh dari subyek, sedangkan lensa fixed atau prime hanya memiliki satu focal length (Gambar 1).  Karena kerumitan desain optik pada lensa zoom, banyak lensa zoom yang memiliki variable aperture (Gambar 2).  Artinya adalah, pada saat anda zoom out secara full, angka aperture akan tetap, tetapi apabila zoom in akan menaikkan aperture secara otomatis.  Contohnya adalah lensa Fujinon 55-200 yang memiliki variable aperture f/3.5 - f/4.8.  Pada saat Zoom out di 55mm, lensa tersebut memiliki aperture f/3.5, dan pada saat zoom in di 200mm, lensa tersebut memiliki aperture f/4.8. 


Variabel 2
Shutter Speed (Kecepatan Rana)


Shutter Speed Dial pada Fujifilm X-T1

Shutter speed adalah seberapa lama shutter terbuka atau seberapa lama sensor terekspos terhadap cahaya.  Jika terbuka lebih lama, semakin banyak cahaya yang masuk.  Jika shutter terbuka dan tertutup dengan cepat, maka sedikit juga cahaya yang masuk.

Shutter Speed tinggi maupun rendah berfungsi sesuai kebutuhannya.  Shutter speed tinggi dibutuhkan apabila anda ingin memberhentikan sebuah gerakan.  Sedangkan shutter speed rendah dibutuhkan apabila ingin membuat semacam efek gerakan.

Bagaimana Aperture memengaruhi Shutter Speed?

Apabila anda menggunakan f/16, berarti sedikit cahaya yang masuk melalui lensa sehingga shutter harus terbuka lebih lama untuk menghasilkan pencahayaan yang benar.  Begitupun sebaliknya, apabila anda menggunakan f/1.2, berarti banyak cahaya yang masuk melalui lensa sehingga shutter tidak perlu terbuka lama.

Contoh penggunaan Shutter Speed rendah agar terlihat efek gerakan Carousel.

Fujifilm X-T2, XF 23mm f/16, 1/15 sec, ISO 200

Contoh penggunaan Shutter Speed tinggi agar pengendara sepeda bisa terlihat seperti berhenti.

Fujifilm X-T2, XF 23mm f/5.6, 1/600 sec, ISO 400


Variabel 3
ISO


ISO Dial pada Fujifilm X-T1

Apa itu ISO?

ISO adalah level sensitivitas sensor terhadap cahaya.  Semakin rendah ISO semakin kurang sensitif terhadap cahaya, semakin tinggi ISO semakin sensitif terhadap cahaya.  Dengan meningkatkan sensitivitas, sensor dapat menangkap gambar dalam kondisi lingkungan yang gelap tanpa harus menggunakan bantuan flash.  Tetapi semakin tinggi sensitivitas semakin tinggi juga noise pada gambar.

 

Perbedaannya terlihat jelas, foto di bawah memiliki lebih banyak noise dibanding foto di atas.

Setiap kamera memiliki base ISO, biasanya ISO terkecil yang dimiliki kamera tersebut yang dapat menghasilkan foto tanpa noise.  Contohnya kamera Fujifilm X-T2 saya memiliki base ISO 200, jadi saya selalu berusaha agar tetap pada ISO 200 agar menghasilkan foto dengan kualitas gambar terbaik.  Apabila kondisi tidak memungkinkan baru ISO saya naikkan.

Urutan ISO pada kamera naik secara bertahap berlipat dua dimulai dari base ISO (100 / 200).  Jadi urutannya adalah 100, 200, 400, 800, 1600, 3200, dan seterusnya.  Yang penting untuk dimengerti adalah, setiap naik 1 step, sensitivitas sensor terhadap cahaya akan menjadi 2 kali lipat dari semula.  Jadi, ISO 200 memiliki sensitivitas terhadap cahaya 2 kali lipat ISO 100, ISO 400 memiliki sensitivitas terhadap cahaya 4 kali lipat ISO 100, dan begitu seterusnya hingga ke ISO 3200 memiliki sensitivitas terhadap cahaya 32 kali lipat dibanding ISO 100.  32 kali lipat lebih sensitif terhadap cahaya berarti anda membutuhkan kira-kira 32 kali lebih sedikit waktu untuk menangkap gambar.

Sebagai contoh:

Jika pada saat anda ingin mengambil sebuah foto, kamera anda memberikan info bahwa membutuhkan shutter speed 1 detik pada ISO untuk mengambil gambar di hadapan anda, anda tinggal merubah ke ISO 3200 maka anda bisa mengambil gambar dengan shutter speed 1/30 detik.


Sebagai kesimpulan:

  1. Aperture adalah seberapa besar bukaan lensa pada saat mengambil foto.
  2. Shutter Speed adalah seberapa lama shutter terbuka.
  3. ISO adalah sensitivitas sensor terhadap cahaya.

Waktu penggunaannya yang paling sederhana mungkin seperti ini:

  1. Apabila anda merasa background di belakang subyek anda sangat mengganggu, maka anda bisa mencoba menggunakan aperture besar agar background menjadi buram.
  2. Apabila anda ingin mengambil foto anak-anak yang biasanya bergerak sangat cepat atau ingin meliput sebuah event olahraga, usahakan menggunakan Shutter Speed yang tinggi agar subyek bisa 'berhenti'.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh penggunaanya.  Agar bisa menggabungkan ketiganya membutuhkan banyak sekali latihan.  Yang tetap harus diingat adalah mengganti salah 1 variabel akan mempengaruhi 2 variabel lainnya.  Cobalah dengan menggunakan Manual Mode mulai sekarang, keunggulan menggunakan digital camera adalah kita bisa mencoba sebanyak-banyaknya dan ditambah lagi dibantu dengan modes yang tersedia pada digital camera seperti Shutter Priority ModeAperture Priority Mode yang akan kita bahas di tutorial-tutorial berikutnya.

Kiranya dapat membantu mengabadikan momen-momen terbaik dari travel para pembaca sekalian.  Jangan lupa untuk subscribe agar bisa mendapatkan update blog perjalanan saya dan juga tips-tips travel photography.

Terima kasih

 

Wira Siahaan