14 Tips Stage Photography

Apakah anda termasuk orang yang suka menonton acara musik? Acara-acara musik, terutama band memang sangat seru untuk difoto.  Selain secara visual sangat menarik karena set lighting dan penampilan musisi yang memukau, secara teknis fotografi pun cukup menantang.  Kondisi cahaya minim dan lighting yang berganti-ganti cukup membuat frustasi pada mulanya.

Sejak tahun 2014 saya tidak lagi berkarir di dunia musik dan untuk mengobati kerinduan saya akan suasana panggung, saya sering menonton teman-teman saya ‘manggung’.  Biasanya saya kontak mereka dan menanyakan apakah saya bisa mendapatkan ID untuk bisa dengan leluasa mengambil foto di area khusus fotografer dan bisa masuk backstage.  Secara rutin saya menonton pertunjukan musik, baik itu penampilan teman-teman saya atau bersama WaiWii, saya belakangan cukup sering di hire media online untuk meliput acara musik.  

Berikut tips-tips bagi anda yang ingin memulai Stage Photography:

1. Lensa dengan Bukaan Besar

Gunakan lensa tercepat yang anda miliki.  Kenapa? karena biasanya kondisi cahaya panggung minim (low light).  Dengan aperture besar seperti 1.2, 1.4, 1.8 atau zoom lens dengan aperture 2.8 memungkinkan anda menggunakan shutter speed yang cepat untuk menangkap gambar tanpa shake atau goyang.

Lensa dengan aperture besar memang cukup mahal, namun akan menjadi investasi yang berharga karena biasanya terpakai selain untuk stage photography.

Saya sendiri menggunakan Fujinon XF 23/1.4 dan XF 56/1.2

 Diani Sitompul | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1250, f/1.2, 1/60

Diani Sitompul | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1250, f/1.2, 1/60

 Kelompok Penerbang Roket | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/1.8, 1/180

Kelompok Penerbang Roket | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/1.8, 1/180

2. Aperture Mode atau Manual Mode?

Stage photography sangat menantang karena cahaya berubah-ubah secara dramatis selama pertunjukan.  Lighting show yang hebat untuk penonton bukan berarti mudah bagi fotografer untuk secara konsisten menyesuaikan dengan kondisi cahaya yang berubah-ubah.  Semakin ‘keren’ lighting show semakin sulit bagi fotografer.

Jika anda baru mencoba stage photography, mulailah dengan Aperture Mode.  Dengan Aperture Mode anda hanya perlu mengendalikan bukaan (aperture) pada lensa dan kamera anda akan mengatur ISO serta Shutter Speed secara otomatis.  Kombinasikan aperture mode dengan kendali Exposure Compensation agar mendapatkan foto yang anda inginkan.

Saya menggunakan Aperture Mode pada waktu memulai stage photography, hingga setelah beberapa lama akhirnya saya merasa saya lebih nyaman menggunakan manual mode karena lebih fleksibel.  Saya tentukan aperture, shutter speed, dan ISO secara manual dan mengganti-ganti sepanjang pertunjukan sambil melihat histogram.

 Scaller | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/1.2, 1/180, Exposure Compensation +2

Scaller | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 200, f/1.2, 1/180, Exposure Compensation +2

 Music Run Kuala Lumpur | Courtesy of  Carta Film Studio  | Fujifilm X-T1 | XF 23/1.4 | ISO 640, f/1.4, 1/200

Music Run Kuala Lumpur | Courtesy of Carta Film Studio | Fujifilm X-T1 | XF 23/1.4 | ISO 640, f/1.4, 1/200

3. Shutter Speed 1/250 atau Lebih

Secara umum saya selalu set Shutter Speed saya di 1/250 atau bahkan lebih cepat, tergantung kondisi.  Terutama untuk konser-konser rock yang hampir semua anggota band konstan bergerak, dengan shutter Speed 1/250 saya bisa freeze pergerakan mereka.

 
 Seringai | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 800, f/1.2, 1/500

Seringai | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 800, f/1.2, 1/500

 
 
 The Experience Brothers Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/1.2, 1/250

The Experience Brothers
Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 400, f/1.2, 1/250

 

4. ISO Tinggi

Karena secara umum pertunjukan musik diselenggarakan dengan cahaya minim, untuk mencapai shutter speed minimum yang saya inginkan (1/60 atau lebih cepat, tergantung lensa yang digunakan) dibutuhkan ISO yang cukup tinggi.  Biasanya saya memulai dengan ISO 1600 dan akan saya naikkan menjadi 3200 apabila diperlukan.  Untuk mengurangi noise akan saya apply noise reduction pada saat post-production.

Untuk mengetahui mengenai Aperture, Shutter Speed, dan ISO, yang tergabung dalam Exposure Triangle, bisa dibaca disini.

 Gabriel Mayo | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 2000, f/1.2, 1/100

Gabriel Mayo | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 2000, f/1.2, 1/100

 Manji | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1600, f/1.4, 1/60

Manji | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1600, f/1.4, 1/60

5. Auto White Balance

Saya selalu menggunakan Auto White Balance karena kamera yang saya gunakan, Fujifilm X-T1 memiliki kemampuan Auto White Balance yang cukup baik dan kemudian di improveI secara signifikan pada kamera Fujifilm X-T2.  Dan juga karena saya memotret dengan format RAW, white balance dapat disesuaikan pada saat proses post-production.

 Udara Kata| Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/1.2, 1/60

Udara Kata| Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/1.2, 1/60

 Danilla | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/2.2, 1/500

Danilla | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/2.2, 1/500

6. Burst / Continuous Mode

Set kamera anda untuk burst mode.  Dengan burst mode anda bisa mengambil foto secara cepat banyak foto berturut-turut (tergantung berapa kemampuan FPS masing-masing kamera).  Dengan mengambil foto secara burst akan memastikan anda memiliki paling tidak satu buah foto yang tajam.

 
 Kelompok Penerbang Roket Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 3200, f/1.2, 1/125

Kelompok Penerbang Roket
Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 3200, f/1.2, 1/125

 

7. Jangan Gunakan Flash.

Konser pada umumnya akan melarang penggunaan flash.  Bayangkan apabila semua fotografer panggung menggunakan flash tentunya akan mengganggu musisi yang sedang tampil.

8. Shoot RAW

Saya sendiri cukup percaya diri dengan hasil JPEG dari kamera Fujifilm X-T1 atau X-T2 saya, namun file RAW ada baiknya tetap digunakan untuk berjaga-jaga dibutuhkan post-production yang cukup berat, karena format RAW menyimpan lebih banyak data dibanding JPEG yang sudah terkompres.  Dengan menggunakan RAW, Highlight bisa direcover cukup signifikan dibandingkan dengan format JPEG dan White Balance pun bisa dirubah secara leluasa.  

 Udara Kata | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/1.2, 1/60

Udara Kata | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/1.2, 1/60


Hal-hal di atas adalah hal teknis dalam pengambilan foto, lalu apa sajakah yang sebaiknya difoto?

9. Tangkap Pergerakan

Saya pribadi suka pergerakan pada foto panggung.  Banyak pergerakan yang bisa diambil seperti gitaris sedang strum gitar, drummer sedang fill-in, konduktor orkestra atau choir sedang menggerakan tangannya, gitaris / pemain bass sedang head banging, dan masih banyak lagi. 

Tergantung seberapa cepat pergerakan musisi yang sedang tampil, biasanya saya set shutter speed mulai dari 1/30 dan terus menurun apabila saya rasakan efek pergerakannya kurang.  Apabila pergerakan cukup ekstrim, seperti loncat-loncat kesana-kemari dan berlari-larian, biasanya 1/60 pun sudah cukup menghasilkan efek pergerakan.

Jangan selalu freeze pergerakan karena dengan adanya pergerakan pada foto akan menghasil sebuah foto yang enerjik.

 Glaskaca | Fujifilm X-T2 | Lens Baby Composer Pro | ISO 6400, f/--, 1/9

Glaskaca | Fujifilm X-T2 | Lens Baby Composer Pro | ISO 6400, f/--, 1/9

 Duta Pamungkas & Junior Soemantri | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/5.0, 1/4

Duta Pamungkas & Junior Soemantri | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 1600, f/5.0, 1/4

10.  Backstage atau Break Time

Jika mendapatkan ijin, abadikanlah momen pada saat musisi sedang di backstage.  Banyak hal yang mereka lakukan pada saat di belakang panggung seperti warming up, persiapan-persiapan terakhir, ngobrol santai, atau bahkan hanya sekedar beristirahat. Biasanya paling seru adalah pada saat setelah selesai manggung, karena disitu terlihat kelegaan mereka, ekspresi senang, dan lain sebagainya.

 Indomusikgram & Ananta Vinnie | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1600, f/1.4, 1/60

Indomusikgram & Ananta Vinnie | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1600, f/1.4, 1/60

 100 Keyboardist | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1600, f/1.4, 1/80

100 Keyboardist | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1600, f/1.4, 1/80

 Duta Pamungkas | Fujifilm X-T1 | XF 23/1.4 | ISO 3200, f/1.4, 1/125

Duta Pamungkas | Fujifilm X-T1 | XF 23/1.4 | ISO 3200, f/1.4, 1/125


JANGAN SAMPAI LUPA


11. Komposisi

Seperti genre fotografi pada umumnya, komposisi tetap sangat penting.  Dengan komposisi yang baik, penikmat foto akan dengan mudah mencerna cerita yang ada pada foto anda.  Bisa dimulai dengan komposisi Rule of Third dan bisa juga mempelejari teknik-teknik komposisi yang lain setelah itu.

Eksperimenlah dengan posisi anda, tidak harus selalu dari depan, mungkin bisa dicoba foto dari bawah atau jika mendapatkan ijin, cobalah foto dari belakang musisi dan hasilkan foto aksi mereka menghadap penonton. 

Apabila ingin mempelajari mengenai komposisi pada fotografi, saya sudah menuliskannya terbagi dua part.  Part-1 dan Part-2.

 Tony Q Rastafara | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1250, f/1.4, 1/125

Tony Q Rastafara | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 1250, f/1.4, 1/125

 Scaller | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 500, f/1.2, 1/180

Scaller | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 500, f/1.2, 1/180

 Music Run Kuala Lumpur | Courtesy of  Carta Film Studio  | Fujifilm X-T1 | XF 23/1.4 | ISO 400, f/1.4, 1/1400

Music Run Kuala Lumpur | Courtesy of Carta Film Studio | Fujifilm X-T1 | XF 23/1.4 | ISO 400, f/1.4, 1/1400

12. Penonton

Yang sering dilupakan adalah mengabadikan reaksi penonton.  Konser adalah komunikasi antara musisi dan penonton.  Abadikan ‘percakapan’ mereka.  Lain musisi yang tampil lain pula reaksi penonton.  Bahkan ada simbol-simbol tertentu yang diperagakan oleh fans fanatik mereka.

 Music Run Kuala Lumpur | Courtesy of Cartafilms | Fujifilm X-T1 | XF 23/1.4 | ISO 1600, f/1.4, 1/200

Music Run Kuala Lumpur | Courtesy of Cartafilms | Fujifilm X-T1 | XF 23/1.4 | ISO 1600, f/1.4, 1/200

 Shaggydog | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 3200, f/1.4, 1/110

Shaggydog | Fujifilm X-T2 | XF 23/1.4 | ISO 3200, f/1.4, 1/110

 Kelompok Penerbang Roket | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 2000, f/1.2, 1/125

Kelompok Penerbang Roket | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 2000, f/1.2, 1/125

13.  Lingkungan dan Detil

Saya suka mengabadikan detail-detail atau hal-hal kecil seputar konser seperti gitar yang sedang tidak dimainkan, head stock gitar, amplifier, sepatu artis, dan hal-hal menarik lainnya seputar panggung.  Dengan banyak foto-foto detil, serial foto panggung anda akan lebih menarik.

 Usman Pranoto | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 640, f/1.2, 1/125

Usman Pranoto | Fujifilm X-T1 | XF 56/1.2 | ISO 640, f/1.2, 1/125

 Glaskaca | Fujifilm X-T2 | Lens Baby Composer Pro | ISO 6400, f/--, 1/60

Glaskaca | Fujifilm X-T2 | Lens Baby Composer Pro | ISO 6400, f/--, 1/60

14.  Bersenang-senang

Apabila saya sedang bertugas untuk meliput suatu event musik, saya akan mengambil foto-foto yang sesuai dengan keinginan pemberi pekerjaan.  Apabila kira-kira sudah cukup banyak, maka saya akan mulai mengambil foto yang sesuai dengan keinginan saya.  Seringkali pada saat disodorkan ke pemberi pekerjaan, yang dipilih justru yang saya ambil sesuai keinginan saya.  Jadi walaupun sedang bekerja, saya tidak lupa untuk memberi reward kepada diri saya dengan cara berkreasi.

 Glaskaca | Fujifilm X-T2 | Lens Baby Composer Pro | In camera Multiple Exposure

Glaskaca | Fujifilm X-T2 | Lens Baby Composer Pro | In camera Multiple Exposure


Demikian tips-tips stage photography dari saya.  Bukan bermaksud menggurui, tetapi hanya berbagi kepada para pembaca sekalian.  Apabila dari teman-teman memiliki tips-tips stage photography, silahkan share pada kolom komen dibawah agar menjadi pembelajaran bagi saya dan pembaca sekalian.

Jangan lupa untuk subscribe ke newsletter Cerita Wira untuk update-update artikel perjalanan dan tutorial fotografi.  

Terima kasih dan selamat moto panggung :)

 

Wira Siahaan